Minggu, 26 Juli 2026

GHIBAH: MUSUH DALAM SELIMUT

 GHIBAH: MUSUH DALAM SELIMUT


By. Satria Hadi Lubis


BANYAK orang takut kepada musuh yang tampak di depan mata, tetapi sering lupa bahwa ada musuh yang justru hidup sangat dekat dengan kita, yaitu lisan yang gemar ghibah.


Ghibah sering dianggap dosa kecil. Padahal ia mampu menghancurkan pahala, merusak ukhuwah, mematikan keberkahan, dan mengeraskan hati. Lebih berbahaya lagi, ghibah sering dibungkus dengan alasan “curhat”, “sekadar cerita”, “demi kebaikan”, atau “karena fakta”.


Padahal Rasulullah saw menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia benci jika mendengarnya. Bahkan ketika itu benar, tetap disebut ghibah. Jika ternyata tidak benar, maka itu menjadi fitnah yang lebih besar dosanya.


"Tahukah kalian apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Engkau menyebutkan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci." Ditanyakan kepada beliau, "Bagaimana jika apa yang aku bicarakan itu ada pada saudaraku?" Beliau bersabda, "Jika yang kalian bicarakan itu benar ada padanya, maka engkau telah mengghibahinya. Dan jika yang kalian bicarakan itu tidak ada padanya, maka engkau telah memfitnahnya." (HR. Muslim)


Ghibah adalah musuh dalam selimut. Ia masuk diam-diam tanpa terasa. Awalnya hanya mendengar. Lalu ikut menanggapi. Setelah itu mulai menikmati. Lama-lama hati menjadi gelap dan merasa biasa membicarakan aib orang lain.


Yang lebih menyedihkan, ghibah sering muncul justru di lingkungan yang dekat dengan agama. Obrolan yang awalnya tampak ilmiah atau penuh nasihat berubah menjadi ajang membuka kekurangan orang lain. Akhirnya ukhuwah rusak, kepercayaan hilang, dan hati dipenuhi prasangka.


Allah Ta’ala telah memberikan perumpamaan yang sangat keras tentang ghibah:


“Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)


Betapa banyak amal yang susah payah dikumpulkan hilang karena lisan yang tidak dijaga. Betapa banyak hubungan retak karena satu pembicaraan yang dianggap sepele.


Lalu bagaimana cara bertaubat dari ghibah?

1. Mayoritas ulama menganjurkan untuk meminta maaf atau meminta kehalalan dari orang yang telah di-ghibahi jika memungkinkan.

2. Jika dikhawatirkan meminta maaf justru menimbulkan fitnah atau masalah yang lebih besar, hendaknya ia mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan untuk orang yang bersangkutan di hadapan Allah SWT.


Namun bukan disebut ghibah jika hal-hal ini terpenuhi :

1. Melaporkan kezaliman kepada pihak berwenang untuk mencari keadilan.

2. Meminta fatwa atau nasihat kepada ulama terkait suatu masalah.

3. Memperingatkan umat dari bahaya atau kesesatan seseorang.

4. Menyebutkan aib seseorang secara terang-terangan jika ia sendiri adalah pelaku maksiat secara terbuka (fasiq).


Karena itu, sebelum berbicara tentang orang lain, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah ini bermanfaat?

Apakah Allah ridha?

Apakah aku rela jika orang lain membicarakan diriku seperti ini?

Jika tidak ada manfaatnya, maka diam lebih mulia.


Orang yang kuat bukan yang pandai menjatuhkan orang lain dengan lisannya, tetapi yang mampu menahan lisannya ketika memiliki kesempatan untuk membicarakan keburukan orang lain.


Jagalah lisan sebelum lisan menghancurkan amal kita sendiri. Sebab banyak orang selamat karena sedikit bicara, dan banyak orang celaka karena tidak menjaga ucapan.


Semoga Allah menjaga hati dan lisan kita dari dosa yang sering dianggap ringan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar