KONSEKUENSI BERSYUKUR ATAS NIKMAT ALLAH
By. Satria hadi lubis
SETIAP manusia pasti mendapatkan nikmat dari Allah. Nafas yang masih berjalan, tubuh yang sehat, keluarga, makanan, tempat tinggal, ilmu, pekerjaan, bahkan kesempatan beribadah, semuanya adalah nikmat yang tidak terhitung jumlahnya.
"Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim : 34)
Namun sayangnya, banyak manusia menikmati nikmat Allah tanpa benar-benar bersyukur kepada-Nya. Lisan mungkin berkata “Alhamdulillah”, tetapi hidupnya justru dipenuhi maksiat dan kelalaian.
Padahal syukur bukan sekadar ucapan. Syukur memiliki konsekuensi. Orang yang benar-benar bersyukur akan terlihat dari cara hidupnya. Beberapa konsekuensi dari bersyukur adalah :
1. TAAT KEPADA ALLAH
Tidak mungkin seseorang mengaku bersyukur tetapi terus-menerus melanggar perintah Allah. Bagaimana mungkin nikmat mata digunakan melihat yang haram?Nikmat lisan dipakai untuk ghibah dan dusta? Nikmat harta digunakan untuk kemaksiatan? Dan nikmat waktu dihabiskan sia-sia tanpa ibadah?
Syukur sejati adalah menggunakan nikmat sesuai tujuan yang Allah ridhai. Semakin besar nikmat yang kita miliki, semakin besar pula ketaatan kita kepada Allah Ta'ala.
2. SEMAKIN RAJIN BERIBADAH
Orang yang sadar bahwa semua nikmat berasal dari Allah akan malu jika hidupnya jauh dari ibadah. Lihatlah Rasulullah saw, beliau manusia paling mulia dan dosanya telah diampuni, tetapi beliau sangat banyak beribadah hingga kakinya bengkak.
Ketika ditanya mengapa beliau beribadah sedemikian berat, Rasulullah saw menjawab :
"Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?" (Muttafaqun 'Alaih)
Subhanallah...Ternyata salah satu tanda syukur adalah semakin dekat kepada Allah, bukan semakin lalai dari-Nya.
3. DERMAWAN DAN PEDULI
Orang yang bersyukur sadar bahwa hartanya hanyalah titipan Allah. Karena itu ia ringan membantu orang lain. Ia suka bersedekah, membantu dana dakwah, peduli kepada fakir miskin, dan meringankan kesulitan sesama.
Sebaliknya, orang yang kufur nikmat biasanya semakin pelit dan semakin cinta dunia. Padahal harta yang tidak digunakan di jalan Allah bisa menjadi sebab penyesalan di kemudian hari.
4. TIDAK MUDAH MENGELUH
Orang yang bersyukur lebih banyak melihat nikmat daripada kekurangan. Ia sadar bahwa ujian hidup tidak sebanding dengan banyaknya karunia Allah yang telah diberikan kepadanya.
Karena itu ia tidak mudah iri, dengki, dan kecewa terhadap kehidupan orang lain. Hatinya lebih tenang. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena ia melihat kasih sayang Allah di balik kehidupannya.
5. NIKMAT AKAN DITAMBAH
Allah SWT telah berjanji :
"Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian." (QS. Ibrahim : 7)
Inilah janji Allah. Syukur mendatangkan keberkahan. Kadang tidak selalu berupa bertambahnya harta. Bisa jadi berupa:
hati yang tenang, keluarga yang harmonis, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, kemudahan ibadah, atau hidup yang penuh keberkahan. Sebaliknya, kufur nikmat sering membuat hidup terasa sempit walaupun harta melimpah.
6. TAKUT KEHILANGAN NIKMAT
Orang beriman takut jika nikmat dicabut karena dosa dan maksiat. Karena itu ia menjaga diri, banyak bertaubat, dan tidak meremehkan dosa kecil.
Ia sadar bahwa betapa banyak orang yang dulunya sehat lalu sakit, kaya lalu miskin, kuat lalu lemah, karena lalai bersyukur kepada Allah. Maka orang yang bersyukur tidak hanya menikmati nikmat, tetapi juga menjaga nikmat itu dengan ketaatan.
7. SEMAKIN RENDAH HATI
Semakin bersyukur seseorang, semakin ia sadar bahwa semua yang dimilikinya hanyalah pemberian Allah. Ia tidak sombong dengan jabatan. Tidak ujub dengan ilmu. Tidak merasa hebat karena kekayaan. Ia sadar, jika Allah menghendaki, semua itu bisa hilang dalam sekejap.
Karena itu orang yang bersyukur biasanya lebih lembut, tawadhu, dan dekat dengan Allah Ta’ala.
Saudaraku...
Jangan sampai kita hanya pandai meminta nikmat, tetapi lupa bersyukur ketika nikmat itu datang. Jangan sampai hidup kita dipenuhi fasilitas, tetapi kosong dari ibadah. Sebab salah satu bentuk musibah terbesar adalah ketika nikmat membuat seseorang semakin jauh dari Allah.
Maka belajarlah menjadi hamba yang benar-benar bersyukur : bersyukur dengan hati, bersyukur dengan lisan,
dan bersyukur dengan amal perbuatan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, sehingga nikmat kita semakin berkah dan menjadi jalan menuju surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar