Minggu, 26 Juli 2026

SETIAP HARI ADALAH JIWA IDUL ADHA

 SETIAP HARI ADALAH JIWA IDUL ADHA


By. Satria hadi lubis


BANYAK orang mengira Idul Adha hanya tentang menyembelih hewan qurban setahun sekali. Padahal sejatinya, Idul Adha adalah tentang semangat pengorbanan yang seharusnya hidup setiap hari dalam diri seorang mukmin.


Setiap hari ada “Ismail-Ismail” yang harus kita korbankan. Bukan anak yang disembelih, tetapi hawa nafsu, ego, kemalasan, kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan segala hal yang menjauhkan kita dari Allah.


Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak sekadar diuji kehilangan anak yang dicintai. Ia diuji : “Apakah cintamu kepada Allah lebih besar daripada cintamu kepada dunia?” Dan beliau lulus karena lebih memilih taat kepada Allah Ta'ala daripada mengikuti perasaan.


Hari ini pun kita diuji dengan hal yang sama.

Ada orang yang tahu shalat berjamaah itu penting, tetapi dikalahkan rasa malas.

Ada yang tahu menutup aurat itu kewajiban, tetapi kalah oleh gengsi dan tren.

Ada yang tahu riba itu haram, tetapi tetap dijalani demi gaya hidup.

Ada yang tahu dakwah itu mulia, tetapi takut dibilang sok alim dan takut kehilangan kenyamanan.


Di situlah jiwa Idul Adha dibutuhkan setiap hari, yaitu keberanian untuk mengorbankan sesuatu demi ketaatan kepada Allah.


Qurban sejati bukan hanya memotong kambing atau sapi. Tetapi juga memotong sifat bakhil, memotong kemaksiatan, memotong cinta dunia yang berlebihan, dan memotong ego yang selalu ingin dituruti.


Betapa banyak orang mampu membeli hewan qurban, tetapi belum mampu mengorbankan amarahnya.

Mampu membeli sapi, tetapi belum mampu memaafkan.

Mampu berkurban di masjid, tetapi masih berat meninggalkan dosa-dosa kecil yang terus diulang.

Padahal Allah tidak membutuhkan darah dan daging qurban kita. Allah melihat ketakwaan kita.


“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj : 37)


Jiwa Idul Adha juga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari pengorbanan. Tidak ada orang besar tanpa pengorbanan. Tidak ada keluarga sakinah tanpa pengorbanan. Tidak ada dakwah yang sukses tanpa pengorbanan. Bahkan surga pun dibeli dengan pengorbanan dan perjuangan. 


Namun sesungguhnya kita tak pernah berkorban sedikitpun. Karena segala sesuatu hanya milik Allah SWT. Kita hanya mengembalikan titipan Allah sesuai pada tempatnya agar hati, pikiran, dan raga kita bersih dan kembali kepada kesucian fitrah. 


Karena itu, jangan hidup hanya mengejar kenyamanan dan kesenangan. Jadilah hamba Allah yang siap berkorban yang sebenarnya sekadar mengembalikan titipan Allah pada tempatnya.


Jika setiap hari kita mampu mengalahkan hawa nafsu demi Allah, maka sebenarnya setiap hari adalah Idul Adha bagi jiwa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar