Sabtu, 24 Januari 2026

MENGAPA TAK BERLAKU PADA SEBAGIAN MUSLIM?

MENGAPA TAK BERLAKU PADA SEBAGIAN MUSLIM?


By. Satria hadi lubis 


ADA janji Allah SWT yang pasti nyata bahwa orang yang bertaqwa akan mendapat rezeki dari arah yang tak terduga.


"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya". (Qs. At-Talaq ayat 2-3)


Namun, mengapa janji tersebut menjadi nyata bagi sebagian muslim, tapi tak berlaku bagi sebagian muslim lainnya?


Jawabannya, terletak pada dua variabel, yaitu tingkat KEYAKINAN dan banyaknya IBADAH.


Jika kamu yakin (haqqul yakin) dengan janji Allah tersebut dan banyak beribadah, maka rezeki yang datang dari arah tak disangka-sangka itu pasti sering terjadi kepadamu...insya Allah. Hidupmu tidak sepenuhnya rasional. Ada "keajaiban" berupa berbagai nikmat rezeki yang kamu peroleh secara tak terduga.


Namun jika kamu yakin dengan janji Allah tersebut, tapi sedikit ibadahnya, maka rezeki yang datang dari arah tak disangka-sangka itu belum tentu terjadi.


Atau kamu kurang yakin dengan janji Allah tersebut, walau banyak ibadah, maka rezeki yang datang dari arah tak disangka-sangka juga belum tentu terjadi.


Apalagi jika kamu kurang yakin dengan janji Allah tersebut, bahkan tak percaya, disertai dengan jarang beribadah, maka rezeki yang datang dari arah tak disangka-sangka tidak akan terjadi. Hidup kamu sepenuhnya rasional, tak ada "keajaiban" mendapatkan rezeki tak terduga sebagai bagian dari nikmat Allah SWT.


Keyakinan itu penting dalam berhubungan dengan Allah. Sebab Allah akan membantu kita sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.


“Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675)


Banyak beribadah (yang tentunya diikuti kualitas ibadah) juga penting sebagai syarat ketakwaan seorang muslim. Tak ada taqwa, tanpa banyak beribadah. Baik ibadah khusus seperti, sholat, shaum, zikir, tilawah,dan lain-lain, maupun ibadah umum, seperti berdakwah dan melakukan berbagai amal kebaikan.


Maka tingkatkan keyakinan dan perbanyak ibadah jika engkau ingin merasakan nikmat Allah berupa rezeki dari arah tak disangka-sangka, seperti yang Allah firmankan dalam surah At-Talaq ayat 2-3 di atas. Sekaligus merasakan kehadiran Allah dalam hidup ini, sehingga hidup ini menjadi lebih indah.


Dinisbatkan dari Ali bin Abu Thalib ra, suatu ketika ia ditanya, “Apakah engkau melihat Allah, wahai Ali?”

Ali menjawab: ‘Bagaimana aku akan menyembah Tuhan yang tidak aku lihat? Tetapi aku tidak melihat-Nya dengan mata kepala, melainkan dengan hati dan keyakinanku."


ADAB KEPADA ORANG YANG LEBIH TUA

 ADAB KEPADA ORANG YANG LEBIH TUA


KITA prihatin mendengar berita seorang murid yang mengajak berkelahi gurunya. Kita sedih melihat seorang anak memukul ibunya hanya karena tidak dikasih uang jajan. Dan kita merasa nelongso ada anak laki-laki yang bertengkar dengan seorang wanita yang jauh lebih tua darinya dengan mengumpat memakai kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan kepada orang yang lebih tua.


Makin banyaknya anak muda yang bersikap tidak sopan dan tidak hormat kepada orang yang lebih tua menunjukkan rendahnya pendidikan adab dan etiket di sekeliling kita. 


Padahal salah satu dosa besar itu adalah perilaku yang tidak beradab kepada orang yang lebih tua, termasuk kepada guru, ustadz, ayah dan ibu kita.


Rasulullah saw bersabda : “Bukan termasuk dari kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, dan tidak menyayangi yang lebih kecil, serta orang yang tidak memerintah pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.” (HR: Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).


Rasulullah saw bersabda: “Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyuruhku untuk mendahulukan orang-orang yang lebih tua” (HR. Ahmad, dan dishahihkan Syeikh Al Albany dalam Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah, no.1555, dengan keseluruhan sanad-sanadnya).


“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang muslim yang sudah tua” (HR. Abu Dawud, dari Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, dihasankan Syeikh Al Albany).


Berkata Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu:

“Sungguh aku dahulu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang anak, dan aku telah menghafal (hadist-hadist) dari beliau, dan tidaklah menghalangiku untuk mengucapkannya kecuali karena disana ada orang-orang yang lebih tua daripada diriku” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).


Berkata Imam al Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin : "Seyogyanya kamu lebih hormat kepada guru (ustadz)-mu daripada kepada orang tuamu. Sebab orang tua belum tentu mendidik kamu tentang keselamatan akhiratmu, tapi gurumu sudah pasti mendidikmu akan keselamatan akhiratmu".


Seorang arif berkata : "Menghormati orang yang lebih tua sebenarnya untuk kepentingamu juga...hai anak muda. Sebab engkau akan tua juga".


Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang pemuda menghormati orang yang lebih tua karena umurnya melainkan Allah akan menjadikan untuknya orang yang akan menghormatinya di masa tuanya.”  (HR: Imam Tirmidzi)


Edited by. Satria hadi lubis

IKHLAS WALAU TIDAK RELA

IKHLAS WALAU TIDAK RELA


By. Satria hadi lubis 


Selama ini ada sebagian muslim mengartikan ikhlas dengan perbuatan yang dilakukan dengan rela dan tanpa pamrih. Padahal ikhlas dan rela dua pengertian yang berbeda.


Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : Ikhlas ialah seorang melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya.


Al Harawi berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi.


Sedang Abu ‘Utsman berkata : “Ikhlas ialah melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)”.


Jadi ikhlas adalah memurnikan niat semata-mata hanya untuk mencari keridaan Allah SWT dan tidak mengharapkan imbalan atau pujian dari manusia. 


Ikhlas berbeda dengan rela atau sukarela. Dalam kamus KBBI, rela atau sukarela berarti tindakan atau kegiatan yang dilakukan dengan kemauan sendiri, tanpa paksaan, dan dengan hati yang senang.


Rela belum tentu ikhlas (diniatkan semata-mata mencari keridhoaan Allah). Sebaliknya, ikhlas belum tentu dilakukan dengan rela. Ikhlas bisa juga dilakukan dengan terpaksa atau bukan kemauan sendiri, atau dengan hati yang kurang senang.


Allah SWT berfirman : "Berangkatlah kamu, baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Qs. 9 ayat 41)


Jadi walaupun kita terpaksa melakukan sesuatu, tapi ikhlas semata-mata mencari ridho Allah, maka perbuatannya bisa disebut dengan perbuatan yang ikhlas. Insya Allah kita akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Contohnya, sholat subuh dalam keadaan enggan karena mengantuk atau berinfaq lebih besar walau yang rela sebenarnya berinfaq lebih kecil.


Sebaliknya perbuatan yang rela dan dilakukan dengan senang hati, tapi bukan dalam rangka mencari ridho Allah (tidak ikhlas), maka tak akan mendapatkan pahala sedikitpun.


"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Namun, sebaik-baiknya ikhlas adalah ikhlas yang dilakukan tanpa lagi terpaksa, tapi sudah dilakukan dengan senang hati dan atas kesadaran sendiri.

 

JANGAN SEPELEKAN DOA DARI ORANG LAIN

JANGAN SEPELEKAN DOA DARI ORANG LAIN


By. Satria hadi lubis 


PERNAHKAH engkau merenung mengapa keadaanmu sebaik sekarang ini dan mengapa engkau tetap mendapat nikmat Allah SWT? Mungkin salah satunya karena doa dari orang lain untukmu, baik yang engkau ketahui atau tidak.


Entah itu doa dari orang tua, guru, teman, anak atau orang yang tak kau kenal, seperti seorang pengemis yang kau berikan uang receh kepadanya. Bisa jadi jika orang lain tidak mendoakanmu, maka nasibmu lebih buruk dari saat ini. 


Oleh karena itu, jangan remehkan doa orang lain. Sebab doa orang lain untukmu, yang engkau ketahui atau tidak itu maqbul (dikabulkan oleh Allah).


“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)


Dalam riwayat lainnya,


“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, ‘Amiin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.’"


Para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah generasi terbaik umat ini dengan keimanan yang jujur dan ikhlas. Mereka mempunyai kebiasaan untuk saling mendoakan satu sama lain. Salah satu riwayat dari mereka yang menerapkan sunnah ini adalah riwayat dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu. Istri beliau, Ummu Darda’ menceritakan,


‘Dahulu Abu Darda’ memiliki sekitar 300 orang sahabat. Di dalam shalatnya, Abu Darda’ seringkali mendoakan mereka. Aku pun berkata kepadanya tentang apa yang dia lakukan.’

Maka dia pun berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah seseorang mendoakan bagi saudaranya tanpa sepengetahuanya, kecuali Allah mengutus denganya dua malaikat, yang keduanya akan mengatakan, ‘Begitu juga denganmu.’ Apakah aku tidak boleh mendambakan malaikat mendoakanku?’” (Siyar A’lamin Nubala’, 2: 351)


Jadi kebiasaan saling mendoakan dan berpesan untuk saling mendoakan adalah kebiasaan baik. Jangan remehkan kebiasaan ini. Mintalah orang lain untuk mendoakanmu. Sebaliknya, jangan pelit untuk mendoakan orang lain.


Bagi yang mendoakan insya Allah akan mendapatkan ganjaran serupa dengan doanya untuk orang lain. Bagi yang didoakan tetaplah rendah hati dan sadar diri, bahwa kenikmatannya saat ini bukan hanya hasil usahanya sendiri, tapi juga akibat kepedulian orang lain untuk mendoakannya. Wallahu'alam. 

REZEKI PAS-PASAN, TAPI CUKUP

 REZEKI PAS-PASAN, TAPI CUKUP


By. Satria hadi lubis 


ADA orang yang rezekinya pas-pasan, tapi cukup.


Pas butuh uang untuk bayar sekolah anak, pas ada uangnya.

Pas butuh duit untuk ke rumah sakit, pas ada duitnya.

Pas ingin beli hp baru, pas ada fulusnya.

Pas ingin sedekah, pas ada yang bisa diberikan.


Inilah mungkin yang disebutkan Allah dalam surah At-Talaq ayat 2-3 : "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka." 


Rasulullah saw termasuk di dalamnya. Beliau tidak punya uang dan materi berlebih, bahkan meninggal tanpa mewariskan harta. Namun beliau hidup pas-pasan dan berkecukupan. Beliau saw selalu mendapatkan rezeki dari arah tak disangka-sangka. 


Ada juga orang yang hidupnya pas-pasan, tapi selalu kurang.


Pas butuh uang untuk bayar sekolah anak, pas gak ada uangnya.

Pas butuh duit untuk ke rumah sakit, pas gak ada duitnya.

Pas ingin beli hp baru, pas gak ada fulusnya.

Pas ingin sedekah, pas gak ada yang bisa diberikan.


Untuk orang semacam ini yang perlu ditingkatkan adalah taqwa dan usahanya. Juga tingkat keyakinannya bahwa ada hubungan antara taqwa dengan rezeki yang pas-pasan tapi cukup, seperti yang dialami oleh orang-orang sholih.


Ada juga orang yang hidupnya berlebihan, hartanya berlimpah dan sebagian disimpan dalam berbagai portofolio investasi keuangan. Sebagian lagi digunakan untuk bermewah-mewahan.


Untuk golongan ini, hidupnya ngeri-ngeri sedap. Disebut sedap karena mendapat prestise sebagai orang sukses dan dikagumi banyak orang awam. Namun ngeri karena pertanggungjawaban berat. Apalagi jika hartanya didapat dengan cara curang dan hasil korupsi.


Bukankah Allah berfirman dalam ayat 35 surah at Taubah bahwa penimbun harta bisa celaka, apalagi jika kewajiban zakat juga diabaikan serta tamak.


"(Ingatlah) pada hari (ketika) emas dan perak dilebur di dalam neraka Jahanam, lalu disetrikakan ke dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan), 'Inilah harta bendamu yang kamu timbun untuk dirimu sendiri. Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu timbun itu'." 


Golongan orang yang banyak harta dan menimbunnya ini akan lebih berat hisabnya nanti di yaumil qiyamah, kecuali jika hartanya disalurkan untuk kebermanfaatan orang banyak dan tak bermewah-mewahan. 


Maka golongan yang manakah Anda?

KURANG AJAR KEPADA ORANG TUA

 KURANG AJAR KEPADA ORANG TUA


By. Satria hadi lubis 


SEKARANG ini banyak anak muda yang susah untuk nurut kepada orang tuanya. Bahkan ada anak yang tak merasa bersalah kalau bisa "memberontak" terhadap perintah orang tuanya. Milih sekolah sesukanya, milih jodoh seenaknya, milih kerjaan semaunya, bahkan milih agama juga sesuka hati. Boro-boro membaca al Qur'an rutin, sholat wajib saja sering ditinggalkan. 


Pendapat dan perintah orang tua tak lagi diindahkan. Orang tua sampai menangis di tengah malam sambil munajat kepada Allah saking sedihnya. Stres mikirin anaknya yang durhaka dan menyakiti hatinya. 


Dengan alasan "ini kan hidup gue", "orang tua gue udah ketinggalan zaman, gak tau perubahan zaman", bahkan ada yang menyitir puisi Khalil Gibran "anakmu bukan milikmu (orang tua), tapi milik zamannya", banyak anak yang berani menentang perintah orang tuanya.


Dampaknya dapat kita lihat sendiri, banyak anak-anak muda sekarang ini susah hidupnya. Susah mencari kerja, susah mencari jodoh, sudah mendapat rezeki, dan kalau sudah berkeluarga anaknya juga bandel, kalau sudah punya pasangan disakiti terus hatinya. Hidupnya menjadi sial seumur hidup.


Anehnya di antara mereka ada yang tak menyadari bahwa penyebab semuanya itu mungkin akibat dulu pernah menyakiti hati orang tuanya, tidak taat alias durhaka kepada orang tuanya. Dikiranya kesialan dirinya karena negara salah urus, atau alasan logis lainnya.


Mereka lupa dengan hukum kehidupan (sunnatullah) yang berlaku sepanjang zaman, yaitu barangsiapa durhaka kepada orang tuanya, maka hidupnya akan menderita, kecuali orang tuanya memaafkan dan si anak kembali berbakti kepada orang tuanya.


Benarlah Allah dengan firmannya :


"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia" (Qs. 17 ayat 23).


Berkata "ah" (yang menandakan keberatan) saja tidak boleh, apalagi lebih durhaka daripada itu.


Benarlah Rasulullah saw dengan sabdanya :


"Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan (orang yang) durhaka kepada orang tuanya” (HR Al-Hakim).


Al-Hakim dan Al-Ashbahani meriwayatkan semua dosa akan ditunda oleh Allah hukumannya sampai hari kiamat nanti. Terkecuali mereka yang durhaka kepada ayah atau ibunya. Maka, Allah akan segera memberi hukumannya di dunia sebelum mereka meninggal. Inilah hukum kehidupan yang berlaku abadi.


Aisyah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Amal kebajikan yang disegerakan balasannya di dunia adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan kejahatan yang disegerakan siksaannya adalah berzina, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus silaturahim” (HR Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).


Mengapa begitu besar petaka bagi anak yang durhaka kepada orang tuanya? Jawabannya sederhana, karena cinta makhluk yang tertinggi adalah cinta orang tua kepada anaknya. Orang tua rela berkorban harta, waktu, pikiran, hati, bahkan nyawa untuk merawat anaknya. Lalu ketika anak membalas cinta orang tuanya dengan kedurhakaan, maka murkalah Allah yang menjadi sebab kehadiran sang anak melalui perantara orang tuanya.


Sebaliknya, jika anak berbakti kepada kedua orang tuanya hidupnya menjadi barokah, banyak kemudahan dan kenikmatan yang ia peroleh, sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas.


Oleh sebab itu, wahai anak muda... taatlah kepada orang tuamu. Meskipun perintahnya tak sesuai dengan keinginanmu, selama hal itu tak bertentangan dengan syariat Allah. 


Tidakkah engkau melihat korban-korban anak durhaka yang bergelimpangan di sekitarmu? Bukankah engkau sudah diajarkan oleh banyak pendidik dari kecil sampai dewasa secara berulang-ulang untuk selalu berbakti kepada kedua orang tuamu? Tidakkah engkau mengambil pelajaran? 


Maka janganlah engkau kurang ajar kepada orangtuamu. Sebab barang siapa yang durhaka kepada kedua orang tuanya, maka seumur hidup kesialan akan datang silih berganti dari berbagai arah. Kalau tidak percaya buktikan saja sendiri. 


*Tolong tulisan ini dishare kepada anak-anak kita. Anak yang kita sayangi sepenuh hati. Semoga mereka menjadi anak yang sholih.

CARA MENDIDIK ANAK YANG SUDAH DEWASA

 CARA MENDIDIK ANAK YANG SUDAH DEWASA


By. Satria hadi lubis 


CARA mendidik anak yang sudah dewasa berbeda dengan mendidik anak yang masih kecil atau remaja. Beberapa cara mendidik anak yang sudah dewasa kisaran usia 20 tahun ke atas adalah : 


1.⁠ ⁠Ubah peran: dari pengasuh menjadi penuntun.


Dalam Islam, ketika anak sudah baligh dan berakal, ia memikul tanggung jawab sendiri di hadapan Allah.


“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Maka peran orang tua bergeser : bukan lagi “mengatur”, tapi menuntun dengan hikmah dan keteladanan.


Contoh:

“Nak, Ayah ingin kamu selalu jaga shalatmu, karena itu tiang hidup kita.”

Bukan: “Kamu harus shalat lima waktu, kalau tidak dosa!”


2.⁠ ⁠Didik dengan hikmah, nasihat, dan keteladanan.


Allah memerintahkan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

(QS. An-Nahl: 125)


Prinsip dakwah ini juga berlaku dalam mendidik anak dewasa, yakni : Hikmah dengan memilih waktu, kata, dan cara yang lembut. Pelajaran baik, dengan berbagi pengalaman hidup. Cara terbaik, dengan tidak mempermalukan, tidak memaksa. Sebab dengan memaksa anak makin menjauh dari orang tuanya.


3.⁠ ⁠Doakan mereka tanpa henti.


Doa orang tua sangat besar pengaruhnya, bahkan setelah anak dewasa.


“Doa orang tua untuk anaknya seperti doa Nabi untuk umatnya.” (HR. Al-Bazzar)


4.⁠ ⁠Tunjukkan kasih sayang, bukan kemarahan.


Nabi saw adalah teladan dalam kasih sayang kepada generasi muda.


“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”

(HR. Ahmad)


Maka walau anak sudah dewasa jangan mudah memarahi atau menuduh. Tunjukkan rasa cinta dengan perhatian, bukan tekanan. Sampaikan nasihat dengan kalimat yang lembut dan menghargai.


5.⁠ ⁠Ajak mereka pada kebaikan secara bersama.


Daripada sekadar menasihati, ajak beramal bersama, misalnya ajak ke masjid atau kajian, bukan sekadar menyuruh. Lakukan sedekah bersama, atau kegiatan sosial.

Ini menumbuhkan rasa kebersamaan dalam beramal.


6.⁠ ⁠Hormati pilihan mereka selama tidak melanggar syariat.


Jika anak sudah dewasa dan memilih jalan hidup (pekerjaan, pasangan, gaya hidup) yang masih dalam koridor halal, maka orang tua harus menghormati dan tetap mendoakan. Jangan menuntut mereka meniru masa lalu orang tua.


Nabi Ya’qub tidak memaksa anak-anaknya, tapi menasihati dengan lembut :


“Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Al-Baqarah: 132)


7.⁠ ⁠Perkuat hubungan hati, bukan kekuasaan


Mendidik anak dewasa bukan dengan kontrol, tapi dengan hubungan batin dan keteladanan.


Jadilah sahabat tempat curhatnya. Jangan hanya hadir saat mereka salah, tapi juga saat mereka berhasil. Tunjukkan akhlak sabar, lapang dada, dan istiqamah.


Jadi mendidik anak dewasa dalam Islam berarti menuntun dengan kasih, mendoakan dengan tulus, dan menasihati dengan hikmah. Orang tua bukan lagi pengatur, tapi qudwah hasanah (teladan yang hidup).

DIMANA TINGKAT MOTIVASIMU?

 DIMANA TINGKAT MOTIVASIMU?


By. Satria hadi lubis 


MOTIVASI adalah dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Motivasi muncul ketika ada kebutuhan yang ingin dituju.


Bukan rahasia lagi, bahwa kesuksesan dan kebahagiaan seseorang ada hubungannya dengan tingkat motivasinya, yang bisa dibagi pada tiga tingkatan :


1.⁠ ⁠Motivasi Eksternal

Hal ini terjadi jika seseorang termotivasi karena materi yang datang dari luar dirinya (eksternal). Misalnya, baru semangat bekerja apabila ada uangnya, atau ada penghargaan dan pujian dari orang lain. Sebaliknya, menjadi tidak semangat bila tidak ada uangnya atau jika dicela orang lain. Ini motivasi yang umum pada kebanyakan orang dan ini adalah motivasi tingkat terendah karena plin plan dan rentan untuk melanggar nilai-nilai moral (bersifat pragmatis).


2.⁠ ⁠Motivasi Internal

Motivasi ini terjadi jika seseorang mengejar kepuasan atau kebanggaan diri. Mereka tidak menjadikan materi sebagai kebutuhan utamanya, tapi mengejar passion-nya (istilah anak muda : "gue banget"). Abraham Maslow, pakar motivasi, menyebutkan motivasi ini sebagai Self Actualization.


Motivasi ini lebih baik daripada motivasi eksternal karena lebih stabil. Tak peduli ada materinya atau tidak, ada pujian atau cacian tetap termotivasi selama memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. 


Namun motivasi internal rentan dengan munculnya sifat narsis dan sombong karena merasa dirinya hebat, serta kurang peduli dengan kepentingan orang lain dan nilai-nilai moral (karena hanya mengejar kepuasan diri).


3.⁠ ⁠Motivasi Ikhlas

Inilah motivasi tertinggi dan mulia karena hanya mengharapkan ridho Allah 'azza wa jalla (ikhlas). Tak akan lekang oleh situasi lingkungan atau perasaan pribadi (suka atau tidak suka). Tak akan terbang oleh pujian dan tak akan tersungkur oleh cacian. Tegak lurus hanya memandang "wajah" Allah semata.


"Dan dari manapun engkau keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan" (Qs. 2 ayat 149).


Motivasi ikhlas membuat pelakunya tak akan kehabisan tenaga dan ide, tidak akan pernah lelah dan putus asa untuk mencapai cita-cita yang ia yakini sesuai dengan ridho Allah SWT. Bahkan ia rela mengorbankan segala sumber daya yang dimilikinya, termasuk nyawa sekalipun, untuk berjuang mencari ridho Allah, seperti yang dilakukan para pahlawan Islam di sepanjang jaman.


"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya"(Qs. 2 ayat 207).


Prinsip hidupnya berubah menjadi al jihadu sabiluna (bersungguh-sungguh jalan hidup kami) untuk kemaslahatan dan rahmat semesta alam. 


Jika pun tidak berhasil mencapai cita-citanya, ia tetap bahagia dan sukses karena sudah berusaha maksimal dan yakin diridhoi Allah SWT. Lalu jika berhasil mencapai cita-citanya, ia tak besar kepala dan lupa kepada Allah yang telah memberikan kekuatan kepadanya (Laa haula walla quwwata illa biLlah).


Hidupnya bahagia sebelum, ketika dan setelah mencapai cita-citanya, seperti bahagianya para pahlawan, para mujahid dan para nabiyullah ajma'in yang yakin ada imbalan surga sebagai imbalan tertinggi untuknya.


Lalu, dimanakah tingkat motivasimu...wahai diri?

SETIAP ORANG BISA JADI PAHLAWAN

 SETIAP ORANG BISA JADI PAHLAWAN


By. Satria hadi lubis 


PAHLAWAN adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, serta rela berkorban demi kepentingan umum. Seseorang yang berani menghadapi bahaya dan kesulitan demi membela kebenaran, seringkali dengan mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa. 


Dalam Islam, selain gagah berani membela kebenaran, seseorang disebut pahlawan jika niatnya lillahita'ala, caranya sesuai syari'at, dan tujuannya menjadikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamiin.


Tetapi sesungguhnya pahlawan bukan hanya untuk sosok besar, seperti pejuang kemerdekaan, mujahid di medan perang, atau tokoh-tokoh yang namanya tercatat dalam buku sejarah. Pahlawan tidak selalu harus memakai seragam, berjuang dengan senjata, atau dikenal banyak orang. Di zaman sekarang, setiap orang bisa menjadi pahlawan — dengan cara dan perannya masing-masing.


Pahlawan hari ini adalah mereka yang berjuang melawan ketidakadilan, ketidakpedulian, kemalasan, dan kejahatan kecil yang sering dianggap biasa. Mereka tidak sudi diam dan berpangku tangan untuk mencari aman.


Pahlawan bisa jadi adalah guru yang tetap sabar mengajar meski fasilitas terbatas.

Pahlawan bisa jadi anak muda yang menolak korupsi sekecil apa pun.

Pahlawan juga bisa jadi warga yang menjaga kebersihan lingkungan tanpa diminta.


Tindakan kecil bila dilakukan dengan ketulusan, justru menjadi bermakna, misalnya :


Menolong teman yang kesulitan tanpa pamrih.

Memberi semangat pada orang yang hampir menyerah.

Mengingatkan orang untuk berbuat jujur.

Menjadi pendengar yang baik ketika orang lain butuh curhat.


Di tengah kondisi dunia saat ini yang penuh tipu daya dan kekacauan moral daripada mengeluh, seorang pahlawan akan lebih sibuk menyalakan lilin kecil di sekitarnya.


Ia mulai dari diri sendiri.

Mulai dari hal yang kecil.

Dan mulai dari sekarang.


Seorang pahlawan akan menggesa dirinya sesuai pakem ini : 


Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren maka ia celaka. Sebab ia merusak potensinya yang hebat.


Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemaren maka ia merugi. Sebab ia menghamburkan waktunya yang singkat.


Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren maka ia lah yang beruntung. Sebab ia menyadari potensinya yang hebat dan menghargai waktunya yang singkat untuk sebaik-baiknya memberikan manfaat bagi orang baik.


"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya" (Qs. 95 ayat 4-6).


Kita tak perlu menunggu sampai tanggal 10 November untuk menjadi pahlawan.

Kita tak perlu jadi orang terkenal untuk memberi dampak.

Karena setiap langkah tulus kita, setiap niat baik, setiap aksi peduli kita — itulah makna sejati dari kepahlawanan.


Jadi, siapkah kamu jadi pahlawan hari ini?


*Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, 10 November 2025.

BERPERAN TANPA BAPERAN

 BERPERAN TANPA BAPERAN


By. Satria hadi lubis 


Hidup ini bukan untuk baperan, tapi untuk berperan. Allah SWT berfirman : 


"Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu atas apa yang Dia berikan kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat sanksi-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Qs. 6 ayat 165)


Itulah sebabnya manusia terbaik di dunia ini adalah muslim yang dalam perannya paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain.


"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)


Namun, sering kali semangat berperan itu tersandung oleh satu hal: baperan (bawa perasaan), yaitu perasaan yang terlalu sensitif, mudah tersinggung, cepat sakit hati ketika pendapatnya tak diterima atau saat orang lain lebih menonjol.


Padahal dalam Islam, IKHLAS adalah kunci utama setiap amal. Ketika niat kita lurus karena Allah, maka kita tak akan mudah baper. Kita tidak mencari tepuk tangan manusia, melainkan ridha-Nya. 


Orientasi kita fokus pada satu tujuan : kebaikan yang diridhoi Allah SWT, tanpa peduli dengan gangguan sepanjang perjalanan, termasuk gangguan perasaan.


"Dan dari mana pun engkau (Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam, sesungguhnya itu benar-benar ketentuan dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (Qs. 2 ayat 149)


Lihatlah teladan para sahabat Nabi. Mereka saling berlomba dalam kebaikan, tapi tidak saling menjatuhkan. Umar bin Khattab ra tak iri pada Abu Bakar ra yang selalu lebih dulu beramal. Justru Umar ra berkata, “Aku tak akan bisa menyainginya.” Sambil beliau tetap berbuat baik dengan caranya sendiri.


Bagaimana agar kita tetap berperan tanpa baperan?


1.⁠ ⁠Fokus pada kontribusi, bukan pengakuan.

Jangan sibuk menunggu pujian, tapi sibuklah menebar manfaat.

2.⁠ ⁠Belajar menerima kritik dengan lapang dada.

Kritik bisa jadi jalan perbaikan, bukan penghinaan.

3.⁠ ⁠Menahan hati dari iri dan dendam.

Karena hati yang bersih lebih ringan dalam melangkah.

4.⁠ ⁠Menyadari bahwa hasil akhir bukan urusan kita.

Allah-lah yang menilai dan memberi balasan.


Jadi, teruslah berperan aktif di jalan kebaikan di mana pun berada, tanpa membawa hati yang mudah retak dan ngambekan, sehingga melihat segala sesuatu dengan kacamata kotor : iri, benci, sangka buruk, ingin dipuji, dan sulit menerima kritik.


Ketahuilah! Yang penting itu bukan siapa yang paling menonjol, tapi siapa yang paling ikhlas. 


Jika kita baperan, mungkin itu menunjukkan ketidakikhlasan kita, sehingga niat perlu diluruskan agar mendapat ridho, pahala dan barokah dari Allah SWT.


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

YANG AKU KAGUM DI DUNIA INI

 YANG AKU KAGUM DI DUNIA INI


By. Satria hadi lubis 


YANG aku kagum di dunia ini bukanlah kemegahan kota, bukan gemerlap harta, bukan pula tepuk tangan manusia.

Yang aku kagum adalah sesuatu yang jauh lebih halus, lebih sunyi, namun menggetarkan hati.


Aku kagum pada orang yang tetap TERSENYUM ketika hatinya sedang diuji, sebab ia percaya Allah tak pernah salah memilih hamba untuk ditempa.


Aku kagum pada mereka yang diam-diam BANGUN DI UJUNG MALAM, memohon tanpa perlu dilihat manusia.

Di saat dunia terlelap, mereka sibuk mengetuk pintu langit, percaya bahwa tak ada doa yang sia-sia.


Aku kagum pada orang yang mampu MEMAAFKAN tanpa diminta, karena hatinya telah dipenuhi cahaya rahmat, seperti Allah yang setiap hari membuka pintu ampunan.


Aku kagum pada mereka yang tetap JUJUR di tengah kesempatan untuk curang, karena mereka tahu rezeki bukan soal kecerdikan, tapi keberkahan.


Aku kagum pada hati yang LEMBUT, yang ketika disakiti tidak membalas, ketika ditekan tidak pecah, ketika diberi cobaan tetap berkata, “Hasbunallah wa ni'mal wakil.”


Aku kagum pada mereka yang SEDERHANA, tetapi hatinya mewah karena bersyukur. Yang hidupnya biasa, tetapi hatinya luar biasa. Yang langkahnya kecil, tetapi pahalanya besar di sisi Allah.


Dan pada akhirnya…

Yang paling aku kagum di dunia ini adalah orang yang mampu menjaga HUBUNGANNYA dengan Allah, walau dunia berkali-kali berusaha memutusnya. Walau resiko berkali-kali mendatanginya. Tapi demi indah di mata Allah ia berjuang meninggikan kemuliaan, bukan cari aman dan nyaman.


Sebab dari merekalah aku belajar:

Bahwa kemuliaan bukan pada apa yang tampak di mata manusia, melainkan pada apa yang Allah lihat dari hamba-Nya.


"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (Qs. Al Hujurat ayat 18)


"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui". (Qs. At Taubah ayat 41)

JANGAN TRAUMA DENGAN LUKA PENGASUHAN

JANGAN TRAUMA DENGAN LUKA PENGASUHAN

By. Satria hadi lubis 

TIDAK semua orang lahir dari pelukan yang hangat.
Tidak semua tumbuh dari rumah yang tenang.
Banyak yang dibesarkan oleh orang tua yang lelah, terluka, atau tidak pernah diajari cara mencintai dengan benar.
Dan dari sanalah muncul luka pengasuhan.

Luka itu nyata.
Ia mempengaruhi cara kita merasa, bersikap, mencintai, bahkan berdoa.
Ada yang takut berkeluarga, takut mengulang kesalahan yang sama.
Ada yang sulit percaya, sulit tenang, sulit mencintai diri sendiri.

Tapi dengarkan ini baik-baik:
Jangan trauma dengan luka pengasuhan.
Sebab Allah tidak menitipkan masa lalu untuk menghancurkanmu,
tetapi untuk menguatkanmu.

Islam mengajarkan bahwa setiap ujian punya pintu penyembuhan.
Setiap kesulitan membawa hikmah.
Setiap luka bisa menjadi rahmat, jika dihadapkan kepada Allah.

Jangan trauma... karena engkau bukan masa kecilmu.
Engkau bukan bentakan yang pernah kau dengar.
Bukan kekurangan kasih sayang yang pernah kau rasa.
Engkau adalah jiwa yang Allah pilih untuk belajar sabar, belajar ikhlas, belajar menjadi lebih baik daripada masa lalu yang membesarkanmu.

Ketahuilah, ketika engkau memilih untuk tidak mengulang luka itu,
ketika engkau memilih memeluk anakmu dengan cinta,
ketika engkau memilih bersuara lembut, menghargai, dan berdoa
saat itu engkau telah menang.
Tidak hanya atas trauma,
tetapi juga atas dirimu sendiri.

Jangan trauma dengan luka pengasuhan.
Karena Allah mampu mengubah yang pahit menjadi manis,
yang menyakitkan menjadi kekuatan,
yang menghancurkan menjadi jalan kembali kepada-Nya.

Engkau tidak gagal.
Engkau sedang disembuhkan.
Perlahan, lembut, dan penuh kasih seperti Allah mendidik hamba-hamba-Nya.

BEDA IZIN DAN RIDHO ALLAH

 BEDA IZIN DAN RIDHO ALLAH


By. Satria hadi lubis 


KADANG kita heran, “Kok ada ya orang yang jahat tapi tetap bisa kaya?”, “Aku tahu ini salah tapi koq lancar-lancar saja", atau “Koq Allah membiarkan sirewel melakukan genosida di Gaza?”


Jawabannya sering tersembunyi pada dua kata yang kelihatannya mirip, tetapi sebenarnya berbeda jauh : IZIN dan RIDHO Allah.


Izin Allah adalah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, tak peduli diridhoi Allah atau tidak. Izin itu hanya berarti Allah membiarkan sesuatu terjadi dalam sistem sunatullah-Nya.


Api membakar, air membasahi, orang jahat bisa kaya, orang lalai bisa diberi nikmat. Itu semua diizinkan terjadi sebagai bagian dari ujian dunia.


Izin adalah bagian dari kehendak kauni, yaitu ketetapan sunnatullah yang berlaku untuk semua makhluk, tanpa melihat mereka baik atau buruk.


"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk ke hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. 64 ayat 11)


Karena itu, ketika sesuatu lancar atau macet, jangan cepat-cepat merasa itu tanda kebaikan atau keburukan. Bisa saja itu sekadar izin, bukan ridho Allah.


Sedang ridho Allah adalah derajat yang jauh lebih tinggi. Bukan sekadar diperbolehkan, tetapi diinginkan oleh Allah.

Ridho berarti Allah merestui, memberkahi, dan menyukai apa yang kita lakukan.


Orang yang mendapat ridho Allah mungkin jalannya tidak selalu mulus, tetapi hatinya tenang, hidupnya berkah, langkahnya dijaga, dan akhirnya diselamatkan.


Ridho datang dari kehendak syar’i, yaitu apa yang Allah perintahkan dan cintai, seperti kejujuran, ibadah, kesabaran, kebaikan, dan akhlak mulia. Ridho Allah pasti berupa kebaikan dan kemuliaan.


Jadi jika seseorang mendapatkan uang banyak tapi dari kerja curang, maka itu izin Allah, bukan ridho Allah.


Namun rezeki yang sedikit tapi halal, itu merupakan ridho Allah, bukan sekedar izin.


Doa yang belum dikabulkan mungkin saja merupakan cara Allah agar kita mendapat ridho-Nya, jika kita bersabar.


Kesempatan bermaksiat yang datang terus itu adalah ujian, bukan tanda cinta atau tanda ridho Allah SWT.


Kadang kita merasa “Allah memudahkan” kita, padahal sebenarnya Allah sedang memberi kesempatan terakhir kepada kita untuk kembali, sebelum semua izin itu berubah menjadi azab.


Jadi jalan yang kita butuhkan bukan jalan yang sekedar mudah, tapi jalan yang diridhoi, walau kadang untuk itu butuh pengorbanan.


"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya" (Qs. 2 ayat 207)


Sebab hidup ini bukan tentang apa yang berhasil kita capai, tetapi dengan cara apa kita mencapainya dan siapa yang merestui langkah itu.


Kita mungkin bisa sukses dengan kekuatan sendiri, tetapi hanya ridho Allah yang membuat hidup kita tenang dan berakhir bahagia.

BAHAYA TIDAK IKHLAS

 BAHAYA TIDAK IKHLAS


By. Satria hadi lubis 


DI BALIK setiap kebaikan yang kita lakukan, ada satu hal kecil namun sangat menentukan nilainya : niat. Kadang kita merasa sudah melakukan banyak kebaikan. tapi tak terasa kita melakukannya bukan lagi karena Allah, melainkan karena ingin dipuji, ingin dianggap hebat, atau takut terlihat buruk.


Beberapa bahaya dari tidak ikhlas adalah : 


1.⁠ ⁠Amal jadi besar di mata manusia, tapi kecil di hadapan Allah.

Tidak ikhlas membuat amal yang tampak megah di dunia menjadi rapuh di akhirat. Satu perbuatan baik bisa kehilangan nilainya hanya karena kita lebih sibuk memikirkan siapa yang melihat daripada siapa yang memberi pahala.


"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).


2.⁠ ⁠Hati Jadi Baperan.

Tanda niat tidak ikhlas karena Allah adalah baperan (bawa perasaan. Tidak dipuji orang lain, langsung kecewa. Merasa tidak dihargai, langsung patah hati. Kebaikan yang seharusnya membuat bahagia justru menjadi sumber penyakit hati.


"Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal?” Kami menyatakan, “Tentu!” Beliau bersabda, “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi), yaitu seseorang mengerjakan salat, lalu ia baguskan salatnya karena ia melihat ada seseorang yang memandangnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4204. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa haditsnya hasan)


3.⁠ ⁠Hidup terasa melelahkan.

Orang yang tidak ikhlas hidupnya capek. Sebab ia berlari mengejar pujian manusia, sesuatu yang tidak pernah selesai dan tidak akan pernah memuaskan. Padahal orang ikhlas hidupnya tenang, karena hanya mencari ridha Allah SWT yang tak pernah mengecewakannya.


"Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap". (Qs. 94 ayat 8)


4.⁠ ⁠Membuka pintu riya dan kebanggaan semu.

Ketidakikhlasan pelan-pelan berubah menjadi riya, yaitu ingin terlihat baik, bukan benar-benar menjadi baik. Ini ibarat menanam benih yang tampak cantik, tapi di dalamnya ada racun.


"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Qs. 8 ayat 47)


5.⁠ ⁠Menghapus pahala tanpa disadari.

Riya adalah “syirik kecil" karena ia memindahkan orientasi ibadah dari Allah kepada manusia. Seseorang bisa saja merasa sudah membawa banyak amal, namun saat dihisab di akhirat nanti ternyata sia-sia belaka.


"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)


Oleh karena itu, jaga keikhlasan kita dalam beramal. Tanyakan pada diri sendiri : “Kalau tidak ada yang tahu, apakah aku masih akan melakukan ini?”


Lalu biasakan melakukan amal secara diam-diam. Amal orang yang ikhlas ibarat gunung es, amal yang diketahui orang lain jauh lebih sedikit daripada amal kebaikan yang dilakukannya. 


Yang penting jangan pernah berharap balasan dari manusia, karena pujian itu cepat hilang, kritik itu cepat datang, dan hati manusia mudah berubah.


Terakhir, perbanyaklah istighfar, karena niat itu labil, dan Allah-lah yang menguatkannya.


Semoga Allah SWT menjadikan setiap amal kita bersih, bernilai, dan diterima.

KEMALASAN TERBAIK

 KEMALASAN TERBAIK


By. Satria hadi lubis 


KITA sering mendengar ada orang yang bilang, “Aduh, aku malas ibadah.” Perkataan tersebut merupakan contoh kemalasan yang buruk.


Namun sebenarnya, ada satu “kemalasan” yang terbaik, bahkan perlu dipelihara, yaitu kemalasan bermaksiat.


Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah dan larangan Allah SWT, bentuknya bisa berupa dosa kecil sampai dosa besar. Namun bukan berarti dosa kecil kita remehkan.


Fudhail bin Iyadh berkata, “Semakin kecil dosa itu terlihat dalam pandanganmu, semakin besar ia di sisi Allah. Sebaliknya, semakin besar dosa itu terasa dalam hatimu, semakin kecil ia di sisi Allah.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, hlm. 81)


Di zaman serba cepat ini, godaan datang bukan lagi mengetuk pintu, tapi langsung duduk di pangkuan. Tinggal geser layar, klik sebentar, hati bisa gelap. Makanya, malas bermaksiat bukan sekadar sikap, tapi rem darurat agar hidup tetap selamat.


Orang yang malas bermaksiat bukan berarti ia sempurna. Ia hanya sadar bahwa setiap kesalahan itu mahal. Mahal waktu, mahal ketenangan, mahal harga diri. Ia tahu setelah bermaksiat, hati rasanya kotor, dosa makin bejibun, doa jadi berat, ibadah hambar, dan hidup seperti kehilangan cahaya.


Maka ia memilih malas.

Malas buka hal-hal yang tak perlu.

Malas ngobrol yang mengundang dosa.

Malas ikut arus yang merusak.

Malas memancing keretakan di hati sendiri.


Malas bermaksiat itu bukan lemah, justru tanda kekuatan. Karena ia mampu menahan diri ketika syahwat sedang bising, mampu menolak ketika nafsu sedang menggoda, dan mampu mundur ketika dunia berusaha menarik.


Dan perlahan, malas bermaksiat melahirkan satu hal indah :

Rajin menjaga diri.


Ketika seseorang malas bermaksiat, Allah permudah ia untuk mencintai kebaikan. Hatinya jadi lebih lapang, pikiran lebih jernih, hidup lebih tenang. Karena tidak ada yang membuat hidup gelap selain dosa-dosa yang dikumpulkan diam-diam.


Mulai hari ini, jika ada “malas” yang pantas kita banggakan, itulah dia : Malas bermaksiat.


Karena di balik kemalasan terbaik itu, ada hati yang ingin tetap bersih, dan ada jiwa yang sedang menuju Allah dengan langkah yang lebih ringan.

APA PEKERJAAN PALING MULIA?

APA PEKERJAAN PALING MULIA?


By. Satria hadi lubis 


DI TENGAH hiruk-pikuk dunia yang semakin sibuk, ada satu profesi yang tetap berdiri tegak menjaga pilar peradaban, yaitu GURU. Dalam Islam, pekerjaan guru bukan sekadar mencari nafkah, tetapi pekerjaan paling mulia. Pekerjaan dengan amanah besar yang diikat oleh nilai ibadah dan kemuliaan.


Mengapa guru begitu mulia?


Karena seorang guru bukan hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi menyalakan cahaya dalam hati murid-muridnya. Ia membuka jalan pengetahuan, menanamkan akhlak, membentuk cara pandang, bahkan ikut menentukan masa depan seseorang tanpa pernah meminta imbalan khusus. Tugas ini sangat dekat dengan misi para Nabi. Tidak heran jika Rasulullah saw bersabda:


“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai seorang guru.”

(HR. Ibnu Majah)


Kalimat singkat itu cukup untuk membuat profesi guru berada di tempat yang istimewa. Guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi melanjutkan salah satu bagian dari tugas kenabian: mengajar dan membimbing manusia menuju kebaikan.


Di lingkaran kecil sekalipun (halaqoh), seorang guru dapat menanamkan benih yang efeknya bisa hidup puluhan tahun. Ia mungkin tidak tahu siapa murid yang kelak menjadi pemimpin, ilmuwan, ulama, atau penolong orang banyak. Tapi setiap huruf yang ia ajarkan, setiap kata yang ia ucapkan, setiap nilai kebaikan yang ia tanamkan, semuanya tercatat sebagai amal jariyah. Rasulullah saw bersabda :


"Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya." (HR Muslim No. 1631).


Menjadi guru berarti rela mengorbankan waktu, menahan lelah, bersabar menghadapi tingkah murid, dan tetap tersenyum meski banyak tekanan hidup. 


Di saat banyak profesi mungkin dihormati karena uang atau jabatan, guru dimuliakan karena pengaruhnya yang tak terlihat namun nyata. Ia mungkin pulang tanpa seragam mewah, tanpa uang yang banyak, tanpa sorotan kamera, tetapi ia membawa pulang pahala dan kemuliaan yang tak tertandingi.


Guru adalah awal dan akhir setiap profesi. Sebab tak ada profesi yang pahalanya besar tanpa memasukkan peran guru di dalamnya. Peran untuk mengukir peradaban dan mendidik akhlaq. 


Bahkan ketika semua profesi selesai dilakukan di kala menua, yang terbersit di benak manusia perindu surga adalah : "Ya Allah....izinkan aku untuk (tetap) menjadi guru."


*Selamat Hari GURU, 25 November 2025. 

AGAR HIDUP TIDAK MEMBOSANKAN

 AGAR HIDUP TIDAK MEMBOSANKAN


By. Satria hadi lubis 


KADANG hidup terasa datar. Bangun pagi, bekerja, pulang, dan tidur. Hari berganti hari, tapi rasanya sama saja, sehingga muncul rasa bosan.


Dalam Islam, kebosanan itu manusiawi namun bukan untuk dibiarkan. Sebab hidup adalah amanah besar, dan setiap detik bisa bernilai ibadah jika diisi dengan makna.


Berikut beberapa cara agar hidup tidak membosankan :


1.⁠ ⁠Segarkan Niat Setiap Hari


Rasulullah saw mengajarkan bahwa amalan tergantung niat. Kadang yang membuat hidup hambar bukan aktivitasnya, tetapi niat yang lupa diperbarui.

Pekerjaan harian bisa menjadi ibadah bila diniatkan untuk mencari nafkah halal, menolong keluarga, dan menghindari yang haram.


Niat yang benar membuat aktivitas yang biasa terasa luar biasa.


2.⁠ ⁠Variasikan Ibadah dan Kebaikan


Iman itu naik turun. Karena itu, Islam membuka banyak pintu ibadah : membaca Al-Qur’an, bersedekah, shalat sunnah, zikir pagi-sore, membantu orang, mengajar, tersenyum, bahkan menyingkirkan duri dari jalan.


Jika satu ibadah terasa berat, pindahlah ke pintu kebaikan lain. Variasi kebaikan membuat hidup lebih hidup.


3.⁠ ⁠Bergaul dengan Orang Shalih


Teman yang baik seperti penjual parfum, walaupun kita tak membeli, biasanya kita tetap dapat wanginya. Lingkungan yang positif membuat hati lebih ringan, pikiran lebih segar, dan semangat ibadah tetap menyala. Banyak kebosanan hidup berasal dari lingkungan yang melemahkan iman.


4.⁠ ⁠Ciptakan Visi dan Misi Hidup


Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan bukan untuk sia-sia. Saat kita punya tujuan yang jelas : menjadi pribadi lebih bermanfaat, menuntut ilmu, membesarkan generasi saleh, menyejahterakan keluarga. Tujuan yang jelas membuat hidup terasa memiliki alasan untuk bangun pagi.


5.⁠ ⁠Isi Hidup dengan Ilmu


Menghaditi majelis ilmu atau liqo' dapat menyehatkan ruh. Bahkan satu ayat yang dipahami dengan baik bisa mengubah cara memandang hidup.


Belajar agama membuat hati selalu menemukan “aha moment” baru. Hidup jadi tidak monoton karena ada cahaya ilmu yang terus mencerahkan.


6.⁠ ⁠Keluar dari Rutinitas dengan Amal yang Menantang Diri


Sesekali ambil langkah kecil yang berbeda, misalnya : bersedekah di waktu sulit, menghafal satu ayat baru, bangun lebih awal untuk tahajud, atau membantu orang yang tak dikenal.


Perubahan kecil ini menghadirkan rasa bergairah yang membuat hidup kembali menarik.


7.⁠ ⁠Syukuri Hal-Hal Kecil


Kebosanan sering muncul karena hati terlalu fokus pada yang kurang, maka perhatikanlah nikmat kecil, seperti udara yang kita hirup, kondisi yang masih sehat, anak yang imut-imut, bisa beribadah, bahkan kesempatan bertaubat.


Syukur itu membuat hati sibuk menghitung nikmat, bukan bosan menghadapi hidup.


Hidup memang tidak selalu menyenangkan, tetapi jika niat diluruskan, ibadah divariasikan, lingkungan diperbaiki, ilmu dikejar, dan hati selalu bersyukur, maka hidup yang tadinya membosankan menjadi perjalanan indah yang penuh warna.

DETIK-DETIK YANG TAK PERNAH KEMBALI

 DETIK-DETIK YANG TAK PERNAH KEMBALI 


By. Satria hadi lubis 


NAMANYA Rafi, usia 29 tahun. Tidak ada yang salah dengan dirinya, sehat, pintar, punya banyak ide. Yang salah hanya satu : ia selalu merasa masih punya banyak waktu.


Kata favoritnya adalah “Nanti aja…”


Setiap pagi, Rafi bangun dengan niat yang besar ; mau belajar, mau olahraga, mau memperbaiki hidup. Tapi selalu ada satu kalimat yang muncul di kepalanya : “Nanti aja.”


Nanti aja baca bukunya.

Nanti aja shalatnya.

Nanti aja mulai kerja.

Nanti aja bantu orang tua.


Dan “nanti aja” itu berubah menjadi tidak pernah.


Sebaliknya, Rafi sering hanya berniat membuka HP sebentar. "Lima menit," Katanya.


Tapi jari-jarinya terlalu lincah untuk menyapu layar, dan tiba-tiba matahari sudah pindah posisi. Waktu makan siang pun tiba, pekerjaan belum dimulai.


Rafi tidak jahat.

Ia hanya lalai.


Saat malam, Rafi sering punya ritual yang sama setiap hari, yaitu menyesal.


Menyesal tidak shalat tepat waktu.

Menyesal tidak memulai tugas.

Menyesal tidak menelpon ibunya.

Menyesal janji pada diri sendiri tapi dilanggar.


Ia sering bertekad pada dirinya sendiri: “Besok aku pasti berubah…!”


Tapi besok, Rafi hanya mengulang pola yang sama.


Suatu hari, bosnya memanggil.

Peluang naik jabatan yang sudah di depan mata akhirnya diberikan ke orang lain.

Alasannya sederhana: “Kamu punya potensi besar, Rafi… tapi kamu sering terlambat menggunakan waktumu.”


Belum sempat ia mencerna, ayahnya sakit dan butuh dirawat di rumah.


Di saat itulah Rafi sadar…

Begitu banyak waktu yang dulu bisa ia gunakan untuk mendekat kepada orang tuanya, tapi ia memilih sibuk dengan hal-hal kecil yang tak penting.


Sejak hari itu, Rafi memutuskan satu hal : “Aku tidak mau lagi menyesal karena membuang-buang waktuku.”


Ia mulai mengisi detik-detiknya:


Shalat tepat waktu

Membaca 2 halaman buku setiap hari

Membatasi penggunaan HP

Menyelesaikan tugas sebelum deadline

Menemani ayahnya di sore hari


Mulai dari yang kecil. 

Perlahan… hidupnya terasa lebih terang.


Kisah Rafi bukan kisah orang lain.

Sering kali, itu kisah kita sendiri.


Kita semua punya “nanti aja” yang mencuri detik.

Kita semua punya waktu yang hilang tanpa suara.

Dan kita semua punya kesempatan untuk berubah… selama waktu itu masih ada.


Sebelum penyesalan yang lebih besar datang.

MISKIN ITU TAK MAU MEMBERI

 MISKIN ITU TAK MAU MEMBERI


By. Satria hadi lubis 


ADA seorang yang miskin bertanya pada sang guru, "Mengapa aku menjadi orang yang miskin dan selalu mengalami kesulitan hidup?"


Sang guru menjawab, "Karena engkau tidak pernah berusaha untuk memberi pada orang lain."


"Tapi saya tidak punya apapun untuk di berikan pada orang lain?" Jawab si murid.


"Sebenarnya engkau masih punya banyak untuk engkau berikan kepada orang lain," ujar sang guru.


"Apakah itu, guru?"


Sang guru menjawab,

"Dengan mulut yang engkau punya,

engkau bisa memberikan senyuman dan pujian.


Dengan mata yang engkau punya,

engkau bisa memberikan tatapan yang lembut dan penuh kasih.


Dengan telinga yang engkau punya,

engkau bisa memberikan perhatian dengan menyimak curhat orang lain.


Dengan wajah yang engkau punya,

engkau bisa memberikan keramahan.


Dengan tangan yang engkau punya,

engkau bisa memberikan bantuan dan pertolongan pada orang lain.


Jadi sesungguhnya kamu bukanlah miskin, hanya saja engkau tidak pernah mau memberi pada orang lain.


Itulah yang menyebabkan orang lain juga tidak pernah mau memberi kepadamu.


Engkau akan terus seperti ini jika engkau tidak mau memberi dan berbagi kepada orang lain.


Pulanglah dan berbagilah pada orang lain dari apa yang masih engkau punya, agar orang lain juga mau berbagi denganmu."

MENJAGA SILATURAHIM TETAP UTUH

 MENJAGA SILATURAHIM TETAP UTUH


By. Satria Hadi Lubis


SILATURAHIM adalah salah satu amalan yang tampak sederhana, namun memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Ia bukan hanya tentang berkunjung ke rumah saudara saat hari raya, bukan hanya tentang saling berkirim pesan di group keluarga, dan bukan pula tentang basa-basi tahunan ketika momen tertentu tiba. Silaturahim adalah energi kehidupan yang menghubungkan hati, menyambung rahmat Allah, dan memperpanjang keberkahan umur seorang muslim.


Namun, di tengah kesibukan, perbedaan pendapat, ego, dan teknologi yang membuat kita saling sibuk dengan dunia sendiri, menjaga silaturahim secara utuh menjadi tantangan yang besar. Utuh berarti lengkap, menyeluruh, bukan setengah-setengah. Bukan sekadar formalitas. Ia harus hadir dalam bentuk perhatian, tindakan, dan doa.


1.⁠ ⁠Makna Silaturahim: Lebih dari Sekadar Bertemu


Silaturahim berasal dari kata rahim yang berarti kasih sayang atau hubungan kekerabatan. Menjaga silaturahim berarti menjaga kasih sayang yang mengalir di antara kita. Rasulullah ﷺ bersabda:


⁠“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahim bukan hanya urusan sosial, tetapi berkaitan langsung dengan keberkahan hidup seseorang. Bukan panjang umur secara hitungan tahun, tapi panjang manfaat hidupnya, lapang rezekinya, tenang hatinya.


2.⁠ ⁠Silaturahim yang Utuh: Tidak Terbatas Jarak dan Keadaan


Silaturahim yang utuh tidak selalu butuh jarak dekat. Islam menghargai setiap bentuk perhatian. Bahkan senyum, sapaan, telepon singkat, atau pesan sederhana dapat menjadi bentuk silaturahim—selama itu lahir dari hati yang tulus.


Namun silaturahim yang utuh memiliki beberapa ciri:


•⁠  ⁠Ada kasih sayang, bukan basa-basi.

•⁠  ⁠Ada perhatian, bukan sekadar hadir di momen tertentu.

•⁠  ⁠⁠Ada keterlibatan hati, bukan hanya formalitas sosial.

•⁠  ⁠⁠Ada doa, bahkan saat tidak sedang berbicara.

•⁠  ⁠Ada kepedulian, meski hanya dalam bentuk mendengarkan.


3.⁠ ⁠Mengapa Silaturahim Sering Retak?


Dalam praktiknya, silaturahim sering terganggu oleh hal-hal yang sebenarnya remeh:


•⁠  ⁠Kesalahpahaman kecil

•⁠  ⁠Perbedaan sikap atau gaya hidup

•⁠  ⁠Ucapan yang melukai tanpa sengaja

•⁠  ⁠Kecemburuan dalam perhatian dan posisi

•⁠  ⁠Kesibukan yang tidak diatur dengan baik

•⁠  ⁠Ego dan gengsi


Masalah kecil yang tidak ditangani bisa menjadi tembok yang bertahun-tahun memisahkan saudara. Bahkan teknologi—yang seharusnya mendekatkan—kadang justru menjauhkan karena kita sibuk di dunia maya, tapi lupa dunia nyata.


4.⁠ ⁠Islam Mengajarkan: Balas Keburukan dengan Kebaikan


Allah SWT berfirman:


⁠“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik…” (QS. Fussilat: 34)


Silaturahim yang utuh butuh jiwa besar.

Kita tidak bisa menuntut orang lain selalu baik kepada kita.

Kita tidak bisa berharap saudara atau teman selalu sesuai dengan harapan kita.


Tetapi kita bisa memilih untuk menjadi pribadi yang memulai kebaikan—walau kecil. Kadang cukup dengan mengalah sedikit, tersenyum lebih banyak, atau menahan komentar pedas. Karena silaturahim tidak dijaga oleh logika tapi oleh hati.


5.⁠ ⁠Silaturahim Juga Tentang Menghapus Luka


Tidak semua hubungan mudah dijaga. Ada yang pernah menyakiti kita. Ada yang meninggalkan luka lama. Namun dalam Islam, memaafkan bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti tidak membiarkan luka itu menjadi tembok antara kita dan rahmat Allah.


Silaturahim yang utuh berarti berusaha memperbaiki hubungan meski pelan-pelan. Tidak harus langsung akrab. Tidak harus langsung seperti dulu. Yang penting adalah:


•⁠  ⁠Tidak memutus komunikasi

•⁠  ⁠Tidak menyimpan kebencian

•⁠  ⁠Tidak mendoakan keburukan

•⁠  ⁠Tetap saling menghormati


6.⁠ ⁠Rambu-Rambu dalam Silaturahim 


Rambu-rambu dalam silaturahim penting dilakukan bukan untuk membatasi kebebasan, tetapi untuk melindungi kehormatan, menjaga hati, dan mencegah munculnya fitnah serta dosa yang tidak diinginkan.


a.⁠ ⁠⁠Menjaga Pandangan dan Hati


Allah berfirman dalam QS. An-Nur:30–31 agar laki-laki dan perempuan menundukkan pandangan.


Ini bukan sekadar menundukkan mata secara fisik, tetapi menjaga hati dari keinginan yang tidak perlu, menjaga pikiran agar tidak liar, dan menjaga interaksi agar tetap profesional dan terhormat.


Rambu ini hadir bukan untuk mempersulit, tetapi untuk menghindarkan manusia dari godaan yang sering bermula dari pandangan—yang kemudian masuk ke hati dan berubah menjadi tindakan.


b.⁠ ⁠Batas Pergaulan Laki-Laki dan Perempuan


Islam membolehkan laki-laki dan perempuan bekerja sama, belajar bersama, dan berkomunikasi. Namun semuanya harus berada dalam batas:


•⁠  ⁠Tidak berkhalwat (berdua-duaan di tempat sepi)

•⁠  ⁠Tidak bermesraan, bercanda berlebihan, atau saling menggoda

•⁠  ⁠Tidak membuka aurat

•⁠  ⁠Tidak berbicara dengan nada yang menggugah syahwat

•⁠  ⁠Tidak berinteraksi dengan tujuan mendekati zina

•⁠  ⁠Tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom


Rasulullah ﷺ bersabda:


⁠“Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali syaitan menjadi yang ketiga.” (HR. Tirmidzi)


Rambu ini menjaga kedua pihak agar tetap suci, terhormat, dan tidak terjerumus pada pelanggaran yang merugikan jiwa, keluarga, dan akhirat.


c.⁠ ⁠Menjaga Lisan dalam Pergaulan


Lisan adalah senjata yang bisa menyembuhkan dan sekaligus melukai. Dalam pergaulan, Islam mewajibkan kita untuk menggunakan lisan dengan cara yang baik:


•⁠  ⁠Tidak ghibah

•⁠  ⁠Tidak fitnah

•⁠  ⁠Tidak menyebarkan aib

•⁠  ⁠Tidak memaki

•⁠  ⁠Tidak berkata kasar/jorok

•⁠  ⁠Tidak mengolok-olok atau merendahka

.

 d.⁠ Memperhatikan ⁠Adab Bicara dan Berinteraksi


Islam adalah agama adab. Dalam pergaulan, adab menjadi wajah diri kita:


•⁠  ⁠Tidak memotong pembicaraan

•⁠  ⁠Tidak memaksakan pendapat

•⁠  ⁠Menghargai yang lebih tua

•⁠  ⁠Menyayangi yang lebih muda

•⁠  ⁠Tidak sombong dalam diskusi

•⁠  ⁠Mendengarkan dengan penuh perhatian


 e.⁠ ⁠Silaturahim dalam Media Sosial


Silaturahium bukan bukan hanya dengan tatap muka, tetapi juga digital. Islam hadir dengan pedoman yang sama:


•⁠  ⁠Tidak mengirim pesan yang menggoda atau tidak pantas

•⁠  ⁠Tidak memamerkan aurat

•⁠  ⁠Tidak menyebarkan fitnah atau screenshot pribadi

•⁠  ⁠Tidak membully

•⁠  ⁠Tidak pamer berlebihan

•⁠  ⁠Tidak menulis komentar yang menyakiti

•⁠  ⁠Tidak menyebarkan atau repost konten yang merusak hati


 f.⁠ ⁠Saling Menasihati dalam Kebaikan


Silaturahim dalam Islam bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga untuk saling mengingatkan.


⁠“Dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr)


Rambu ini menuntut kita menjadi sahabat yang:


•⁠  ⁠Berani mengingatkan

•⁠  ⁠Tidak menjerumuskan

•⁠  ⁠Tidak mendiamkan kemaksiatan

•⁠  ⁠Tidak ikut-ikutan dalam menyebarkan aib orang lain 


Ketika silaturahim dijaga dengan utuh, Allah memberikan banyak kebaikan:


•⁠  ⁠Hati menjadi lapang

•⁠  ⁠Pertemanan terasa damai

•⁠  ⁠Rezeki mengalir lebih berkah

•⁠  ⁠Masalah terasa lebih ringan

•⁠  ⁠Doa lebih mudah dikabulkan


Hidup terasa lebih indah karena banyak yang mencintai dan mendoakan. Wallahu’alam.

HUKUM-HUKUM KEHIDUPAN YANG TAK PERNAH BERUBAH

 HUKUM-HUKUM KEHIDUPAN YANG TAK PERNAH BERUBAH


By. Satria hadi lubis 


DALAM perjalanan hidup, setiap orang pasti mencari pegangan tentang apa yang benar, apa yang salah, apa yang seharusnya dilakukan, serta bagaimana menghadapi hidup yang kadang indah dan kadang menakutkan. 


Islam datang membawa seperangkat “hukum kehidupan” (bukan hanya hukum fikih) yang membuat seorang muslim hidupnya menjadi kokoh, bijak, dan tidak mudah digoyahkan oleh keadaan.


Berikut hukum-hukum kehidupan yang tak pernah lekang oleh zaman :


 1.⁠ ⁠Hidup Itu Ujian


Setiap manusia pasti mengalami ujian kehidupan. Dalam Islam, ujian bukan tanda Allah tidak sayang, tetapi justru bukti perhatian-Nya.


“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


 2.⁠ ⁠Kebaikan Akan Dibalas, Keburukan Akan Kembali


Hukum ini sederhana : apa yang kamu tabur, itu pula yang kamu tuai.


“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)


Jadi tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan senyum pun bisa kembali menjadi rezeki.


 3.⁠ ⁠Rezeki Sudah Diatur, Tapi Usaha Tetap Wajib


Rezeki sudah disiapkan, tapi tetap harus dijemput. Tidak ada rezeki yang jatuh ke pangkuan orang tidur.


“Dan di langit terdapat rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)


“Bergeraklah kalian setelah selesai shalat, dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)


 4.⁠ ⁠Setiap Kesulitan Pasti Disertai Kemudahan


Jika sedang berada di fase sulit, ingatlah : kemudahan sudah berjalan berdampingan, tinggal menunggu giliran muncul.


“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)


 5.⁠ ⁠Waktu Adalah Amanah


Kesibukan bukan ukuran keberhasilan. Ukuran keberhasilan itu bagaimana kita bertanggung jawab terhadap setiap detik waktu kita untuk mengumpulkan amal kebajikan. Kelak waktu yang kita habiskan akan dimintai pertanggung jawabannya di hari kiamat. 


“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

(QS. Al-‘Asr: 1–3)


 6.⁠ ⁠Hati yang Ikhlas Membuat Ketenangan dan Kebahagiaan


Ikhlas membuat yang berat terasa ringan, dan yang sulit menjadi mudah. 


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)


 7.⁠ ⁠Menjaga Silaturahim Memperpanjang Umur dan Rezeki


Hubungan baik antar manusia membawa keberkahan hidup dan memperbanyak rezeki.


“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


 8.⁠ ⁠Hidup Tenang Datang Dari Mengingat Allah

HUKUM-HUKUM KEHIDUPAN YANG TAK PERNAH BERUBAH


By. Satria hadi lubis 


DALAM perjalanan hidup, setiap orang pasti mencari pegangan tentang apa yang benar, apa yang salah, apa yang seharusnya dilakukan, serta bagaimana menghadapi hidup yang kadang indah dan kadang menakutkan. 


Islam datang membawa seperangkat “hukum kehidupan” (bukan hanya hukum fikih) yang membuat seorang muslim hidupnya menjadi kokoh, bijak, dan tidak mudah digoyahkan oleh keadaan.


Berikut hukum-hukum kehidupan yang tak pernah lekang oleh zaman :


 1.⁠ ⁠Hidup Itu Ujian


Setiap manusia pasti mengalami ujian kehidupan. Dalam Islam, ujian bukan tanda Allah tidak sayang, tetapi justru bukti perhatian-Nya.


“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


 2.⁠ ⁠Kebaikan Akan Dibalas, Keburukan Akan Kembali


Hukum ini sederhana : apa yang kamu tabur, itu pula yang kamu tuai.


“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)


Jadi tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan senyum pun bisa kembali menjadi rezeki.


 3.⁠ ⁠Rezeki Sudah Diatur, Tapi Usaha Tetap Wajib


Rezeki sudah disiapkan, tapi tetap harus dijemput. Tidak ada rezeki yang jatuh ke pangkuan orang tidur.


“Dan di langit terdapat rezeki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian.” (QS. Adz-Dzariyat: 22)


“Bergeraklah kalian setelah selesai shalat, dan carilah karunia Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)


 4.⁠ ⁠Setiap Kesulitan Pasti Disertai Kemudahan


Jika sedang berada di fase sulit, ingatlah : kemudahan sudah berjalan berdampingan, tinggal menunggu giliran muncul.


“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)


 5.⁠ ⁠Waktu Adalah Amanah


Kesibukan bukan ukuran keberhasilan. Ukuran keberhasilan itu bagaimana kita bertanggung jawab terhadap setiap detik waktu kita untuk mengumpulkan amal kebajikan. Kelak waktu yang kita habiskan akan dimintai pertanggung jawabannya di hari kiamat. 


“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

(QS. Al-‘Asr: 1–3)


 6.⁠ ⁠Hati yang Ikhlas Membuat Ketenangan dan Kebahagiaan


Ikhlas membuat yang berat terasa ringan, dan yang sulit menjadi mudah. 


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)


 7.⁠ ⁠Menjaga Silaturahim Memperpanjang Umur dan Rezeki


Hubungan baik antar manusia membawa keberkahan hidup dan memperbanyak rezeki.


“Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


 8.⁠ ⁠Hidup Tenang Datang Dari Mengingat Allah


Semakin jauh dari Allah, semakin gelisah hati dan semakin dekat dari Allah, maka semakin damai hati.


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)


 9.⁠ ⁠Manusia Tidak Akan Dipikulkan Beban Melebihi Kemampuannya


Allah tidak pernab zalim. Beban hidup kita pasti sesuai kapasitas kita masing-masing. Mungkin kita kadang merasa tidak kuat, tapi Allah tahu bahwa kita bisa.


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)


10.⁠ ⁠Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Kesabaran


Sabar bukan pasrah. Sabar adalah kerja keras yang tenang.


“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Semakin jauh dari Allah, semakin gelisah hati dan semakin dekat dari Allah, maka semakin damai hati.


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)


 9.⁠ ⁠Manusia Tidak Akan Dipikulkan Beban Melebihi Kemampuannya


Allah tidak pernab zalim. Beban hidup kita pasti sesuai kapasitas kita masing-masing. Mungkin kita kadang merasa tidak kuat, tapi Allah tahu bahwa kita bisa.


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)


10.⁠ ⁠Tidak Ada Keberhasilan Tanpa Kesabaran


Sabar bukan pasrah. Sabar adalah kerja keras yang tenang.


“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

GENERASI SANDWITCH : DERITA ATAU KEMULIAAN

GENERASI SANDWITCH : DERITA ATAU KEMULIAAN


By. Satria hadi lubis 


DI ZAMAN sekarang ini, banyak generasi milenial yang memikul dua beban sekaligus : mengurus orang tua yang menua, sekaligus membiayai anaknya yang sedang tumbuh. Mereka seperti “terjepit” di antara dua lapisan roti, sehingga dalam literatur disebut sebagai generasi sandwich.


Kadang mereka tersenyum di luar, tapi di dalam hati ada sesak. Tagihan yang menumpuk, tuntutan banyak, dan waktu seakan tak pernah cukup.


Jika kamu termasuk generasi sandwich. Bagaimana sikap yang benar menjadi generasi sandwich?


Pertama, perlu dipahami bahwa merawat orang tua adalah kemuliaan, bukan kutukan. Generasi sandwich sering merasa bersalah: “Kenapa beban ini harus jatuh ke aku?” Padahal merawat orang tua adalah ladang pahala dan barokah.


“Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan jangan membentak mereka…” (QS. Al-Isrā’: 23)


Yang berat bukan kewajibannya, tapi bagaimana kamu mengelola diri saat menjalani kewajiban tersebut. Sebab setiap tetes keringat yang keluar karena menjaga orang tua adalah penghapus dosa dan jalan kemuliaan.


Kedua, keluarga yang kamu tanggung adalah amanah, bukan beban hidup. Anak-anak yang butuh biaya, perhatian, dan waktu adalah amanah yang suatu hari akan menjadi amal jariyah. Mendidik anak dengan baik adalah investasi akhirat, bukan sekadar “biaya hidup”.


Kadang generasi sandwich merasa harus kuat setiap saat :

harus menyenangkan orang tua, membahagiakan anak, bekerja maksimal, dan tetap tersenyum.


Padahal Islam tidak menuntut manusia menjadi sempurna.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya agama ini mudah...” (HR. Bukhari)


Jadi jika lelah, kamu boleh rehat. Jika sudah tak sanggup, kamu boleh meminta bantuan. Islam memuliakan ikhtiar, bukan memaksakan diri sampai hancur.


Jangan semua ditanggung sendiri. Bukankah Allah berfirman?


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)


Jika memang penghasilan terbatas, tidak salah untuk membicarakan batas kemampuanmu kepada orang tua atau keluarga. Lalu bagi tanggungan tersebut kepada anggota keluarga lainnya, seperti kakak, adik, paman, bibi dan lainnya. 


Namun jika memang harus ditanggung sendiri. Hiduplah sesuai kemampuanmu, jangan termakan gengsi. Sebab kadangkala yang membuat kami tertekan itu bukan karena kebutuhan, tapi karena gaya hidup yang ingin terlihat “mapan”.


Komunikasikan secara terbuka dan jujur. Jangan takut jujur karena tidak ingin mengecewakan orang tua atau dianggap pelit. Bicarakan kondisi keuangan dengan sopan. Mintalah pengertian bila ada keterbatasan. Kadang solusi muncul bukan dari uang, tapi dari saling memahami.


Lalu perkuat doa dan koneksi kamu dengan Allah. Sebab ketika manusia terjepit, pintu langit tidak pernah tertutup.

Tidak ada bantuan yang lebih kuat daripada doa orang yang terdesak.


“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar.” (QS. Ath-Thalāq: 2)


Siapkan solusi jangka panjang berupa tabungan, investasi jangka panjang, ikut asuransi syariah atau membangun skill yang bisa meningkatkan penghasilanmu.


Menjadi generasi sandwich memang melelahkan. Namun itu bukan derita, tapi kemuliaan. Allah sedang menguatkanmu dan menumbuhkanmu dalam kesabaran yang tinggi. 

BERANI BERUBAH WALAU TAKUT

 BERANI BERUBAH WALAU TAKUT


By. Satria hadi lubis 


ADA masa dalam hidup ini ketika kita merasa jalan sudah buntu, hari terasa sama, dan hati merasa berat. Kita tahu harus berubah… tapi langkah itu seperti terlalu menakutkan. Kita takut gagal, takut tidak diterima, takut meninggalkan zona nyaman yang selama ini membuat kita tertidur.


Padahal perubahan adalah bagian dari sunnatullah. Tidak ada bunga yang mekar tanpa membuka dirinya. Tidak ada fajar yang datang tanpa melewati gelapnya malam. Dan tidak ada manusia yang menjadi lebih baik tanpa berani meninggalkan diri lamanya.


Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)


Ayat ini bukan sekadar kalimat indah. Ini adalah tamparan lembut. Allah ingin kita melangkah dulu, meski kecil. Allah ingin melihat kita berusaha, meski pelan. Karena perubahan tidak jatuh dari langit. Perubahan lahir dari keberanian kita menggerakkan hati.


Berani berubah artinya berani jujur pada diri sendiri

Bahwa ada kebiasaan yang harus ditinggalkan.

Ada langkah baru yang harus dimulai.

Ada doa yang harus lebih serius dipanjatkan.

Ada versi diri yang lebih hebat yang sedang menunggu kita jemput.


Kadang perubahan itu kecil, hampir tak terlihat, seperti memilih menahan amarah, menunda dosa, memperbanyak istighfar, atau memulai kembali pekerjaan yang kita tunda. Tapi Allah melihat semuanya. Bagi-Nya, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bukti bahwa hati kita masih hidup.


Ingatlah...

Tidak ada perubahan besar tanpa keberanian kecil

Dan tidak ada keberanian kecil tanpa keyakinan bahwa Allah bersama setiap hamba yang ingin memperbaiki dirinya.


Maka jika hari ini kamu merasa takut berubah, peganglah satu hal : Allah tidak pernah mengecewakan orang yang mencoba.


Mulailah, meski gemetar

Langkahlah, meski takut

Perbaikilah, meski sedikit


Sebab keberanian hari ini bisa menjadi awal dari takdir baru yang Allah siapkan, yang lebih luas, lebih terang, dan lebih indah dari yang pernah kita bayangkan


Berubahlah...!

Atau yang kamu khawatirkan benar-benar terjadi.

HOBI NGAJI, HOBI YANG SERING TIDAK DIPRIORITASKAN

 HOBI NGAJI, HOBI YANG SERING TIDAK DIPRIORITASKAN


By. Satria hadi lubis 


DI ZAMAN ketika orang sibuk melakukan berbagai hobi, yaitu kegemaran yang dilakukan secara sukarela dan memberikan kepuasan pribadi. Entah bersepeda, ngopi, main game, merawat tanaman, atau membuat konten. 


Namun ada satu hobi yang sering tidak diprioritaskan, yakni hobi mengaji (mengikuti kajian Islam). Padahal, dari semua kesenangan yang kita kejar, hanya hobi mengaji yang berisi ilmu untuk membuat hidup semakin terang dan langkah semakin benar.


Banyak orang mengaku ingin dekat dengan Al-Qur’an. Banyak juga yang bilang ingin paham agama. Tapi ketika jadwal mulai padat, mengaji sering dipinggirkan. Ia dianggap kegiatan tambahan, bukan kebutuhan. Padahal, bagi seorang muslim, mengaji bukan sekedar hobi, ia adalah bekal perjalanan hidup dan mati.


1.⁠ ⁠Ngaji Perlu Sistematis, Tidak Asal Ambil Potongan


Kini informasi agama tersebar di mana-mana. Ada yang benar, ada yang menggugah, ada yang sekadar viral, dan ada pula yang berbahaya. Karena itu, mengaji harus sistematis, bukan hanya potongan-potongan video pendek atau quotes manis.


Sebab ilmu agama ibarat bangunan.

Pondasinya : akidah

Tiangnya: ibadah

Dindingnya : akhlaq.

Dan atapnya : dakwah dan jihad.


Jika kita belajar secara acak, bangunannya tidak pernah tegak. Kita tahu sedikit dari banyak hal, tapi tidak menguasai apa pun. Kita tersentuh, tapi tidak kokoh.


2.⁠ ⁠Ngaji Sebaiknya Offline : Sebab ada Ruh yang Tak Bisa Digantikan


Kajian online memudahkan, tapi ngaji offline memiliki ruh yang berbeda. Ada adab yang terlihat. Ada suasana yang menguatkan. Ada kedekatan yang membuat nasihat lebih meresap.


Melihat guru secara langsung, mendengar suaranya, merasakan kesungguhan ilmunya hal itu semua membentuk karakter. Ulama dulu menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk satu hadist. Kita sekarang tinggal melangkah ke masjid atau rumah ustaz.


Keutamaan dan imbalan mengaji offline sungguh luar biasa. Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah sekelompok orang duduk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat (Allah) meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim)


3.⁠ ⁠Ngaji Rutin Membuat Muslim Punya Mentor (Pembimbing)


Seorang muslim membutuhkan mentor, murabbi, atau pembimbing keagamaan.

Tanpa mentor, kita mudah terseret arus. Tanpa arahan. Belajar jadi terputus-putus. Tanpa bimbingan, sehingga kita sulit menyadari kesalahan diri.


Mentor bukan sekadar guru.

Ia penjaga ritme mengaji kita.

Ia cermin yang memperbaiki niat.

Ia penuntun agar kita tak berhenti di tengah jalan.


Setiap orang yang berhasil dalam agama hampir selalu punya seorang mentor atau pembimbing.


Akhirnya…

Menjadikan ngaji sebagai hobi prioritas adalah keputusan yang paling bernilai untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Dari hobi itu lahir ketenangan, arah yang jelas, hati yang bersih, dan amal yang benar.


Jadikan mengaji sebagai aktivitas yang terjadwal, bukan sampingan.

Cari mentor yang bisa mengarahkan.

Datangi kajian offline yang membangun.

Belajar agama secara bertahap dan menyeluruh.


Karena hobi yang kita bawa sampai ke surga bukanlah hobi koleksi dunia, tapi ilmu yang menuntun langkah menuju ridho Ilahi.

TILAWAH AL QUR'AN : JALAN KEMBALI PULANG

 TILAWAH AL QUR'AN : JALAN KEMBALI PULANG


By. Satria hadi lubis 


ADA satu momen dalam hidup seorang muslim ketika ia menyadari bahwa hatinya begitu mudah lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena manusia.

Tapi karena terlalu lama ia jauh dari firman Allah.


Tilawah Al-Qur’an adalah jalan pulang yang paling sunyi namun paling terang.

Saat seseorang membuka mushaf dan mulai membaca, ada sesuatu yang halus turun ke dalam dadanya. Sebuah rasa tenang yang tidak bisa dijelaskan, seolah Allah sendiri sedang menenangkan gelisahnya.


Ayat demi ayat berjalan seperti aliran air yang membasuh hati yang retak.

Kadang ayat itu menegur, membuat kita menunduk malu.

Kadang ayat itu memeluk, membuat kita merasa dicintai.

Kadang ayat itu membuka mata, membuat kita mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah terpikirkan.


Tilawah bukan hanya ibadah. Ia adalah percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya.

Tak perlu risau dengan mengerti atau tidak mengerti apa yang dibaca.

Tak perlu peduli apakah lancar atau terbata-bata melafalkan tajwid dan makhroj-nya.


Yang penting baca sebanyak-banyaknya seperti yang diperintahkan Sang Nabi saw dan yang dilakukan para sahabat dan ulama.

Sebab di saat seseorang membaca, ia sebenarnya sedang dididik Allah. Makin banyak ia baca, makin tertanam didikan Allah.


Didikan tanpa suara keras, tanpa paksaan, hanya melalui rangkaian kata yang menghidupkan jiwa. Hati perlahan menjadi lebih lembut, pikiran lebih jernih, langkah lebih terarah. Tanpa ia sadari, dosa yang dulu terasa ringan mulai terasa berat. Maksiat yang dulu tampak biasa mulai memalukan. Itulah efek ayat-ayat Allah yang meresap ke dalam diri.


Rumah yang sebelumnya penuh kegelisahan berubah lebih teduh hanya karena tilawah dilakukan di dalamnya. Seperti ada cahaya yang tidak terlihat mata, tetapi terasa oleh hati yang hadir. Keberkahan masuk perlahan, membawa ketenangan pada rezeki, waktu, bahkan hubungan keluarga. Itulah keberkahan yang datang bersama firman Allah.


Bagi orang yang sedang jatuh, tilawah Al-Qur’an adalah tempat pulang.

Saat dunia terasa bising, ayat-ayat Allah mengajarkan bagaimana diam.

Saat hati terasa hampa, Al-Qur’an mengisi kekosongan itu dengan makna.

Saat seseorang merasa sendirian, tilawah mengingatkan bahwa Allah selalu dekat.


Yang paling indah dari tilawah adalah bagaimana ia menumbuhkan rindu.

Semakin sering seseorang membaca Al-Qur’an, semakin hatinya ingin kembali.

Ada magnet lembut yang menariknya menuju mushaf.

Ada kerinduan yang tumbuh pelan-pelan, membuatnya ingin membuka lagi halaman berikutnya.


Dan di balik semua itu, ada janji Allah:

bahwa Al-Qur’an akan menjadi sahabat setia di dunia dan pembela di akhirat.

Karena setiap huruf yang dibaca, setiap detik yang diluangkan, tidak ada satu pun yang sia-sia di sisi Allah.


"Bacalah Al-Qur’an, karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi sahabat-sahabatnya." (HR. Muslim no. 804)


Tilawah Al-Qur’an pada akhirnya bukan tentang banyaknya halaman yang ditamatkan.

Ia tentang hati yang perlahan hidup kembali.

Tentang jiwa yang mulai mengenal Tuhannya.

Tentang perjalanan panjang seorang hamba yang ingin pulang.

Dan Al-Qur’an menjadi cahaya yang menuntunnya.


Dan kelak, ketika seseorang hamba berkata,

“Kini hidupku tenang,”

biasanya semua itu bermula dari hari ketika ia memutuskan untuk kembali membuka mushafnya.

MEMUPUK RASA MALU KEPADA ALLAH

 MEMUPUK RASA MALU KEPADA ALLAH


By. Satria hadi lubis 


ADA satu perasaan yang jika tumbuh di hati, ia mampu menahan kita dari dosa sekaligus mendorong kita menuju kebaikan. Perasaan itu adalah al-ḥaya’ (rasa malu kepada Allah).


Malu kepada Allah bukanlah kelemahan. Ia adalah kemuliaan hati. Rasa malu kepada Allah bukan membuat seorang muslim minder, tetapi membuatnya terhormat di hadapan Allah.


Mengapa harus malu kepada Allah?


Karena Allah selalu melihat kita.

Bahkan ketika tak ada satu pun manusia yang memperhatikan, Allah paling dekat dengan rahasia kita.


“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. 49 ayat 18)


Bagaimana mungkin kita berani berbuat yang Allah larang sementara Dia yang memberi kita nikmat, kesehatan, rezeki, dan umur?


Tanda-tanda rasa malu kepada Allah :


1.⁠ ⁠Takut jika Allah kecewa. 

Saat hendak bermaksiat, hati langsung bergetar. “Yang aku lakukan ini, layakkah di hadapan Allah?”


2.⁠ ⁠Berhati-hati ketika sendirian. 

Mujahadah terbesar adalah menjaga diri ketika tak ada yang melihat, kecuali Allah.


3.⁠ ⁠Cepat bertaubat setelah salah. 

Orang yang punya rasa malu tidak betah berlama-lama dalam dosa.


4.⁠ ⁠Memuliakan syariat. 

Ia berusaha menutup aurat, menjaga pandangan, memperbaiki shalat, bukan karena dilihat manusia, tapi karena ingin menjaga kehormatannya di hadapan Allah.


Bagaimana cara memupuk rasa malu kepada Allah?


1.⁠ ⁠Banyak mengingat nikmat-Nya

Setiap kali menyadari betapa banyak nikmat Allah, seperti mata yang melihat, paru-paru yang bernafas, rezeki yang mengalir, hati akan merasa malu jika digunakan untuk melawan-Nya.


2.⁠ ⁠Sering membaca Al-Qur’an

Ayat-ayat Allah adalah cermin. Semakin sering membaca al Qur'an, semakin nampak kekurangan diri, dan semakin besar rasa malu untuk bermaksiat.


3.⁠ ⁠Hadir di majelis ilmu

Majelis taklim atau liqo' membuat hati hidup. Ilmu melahirkan rasa takut, dan rasa takut melahirkan rasa malu.


4.⁠ ⁠Menjaga momen “sendiri bersama Allah”

Luangkan waktu untuk muhasabah. Diam sejenak sebelum tidur. Tanyakan pada diri: “Apa yang Allah lihat dari diriku hari ini?”


5.⁠ ⁠Perbanyak doa

Doakan agar Allah menanamkan rasa malu. Karena hati manusia berbolak-balik. Jika tidak dijaga oleh Allah, ia dijaga oleh syaitan, sehingga keras kepala dan tak lagi peka terhadap dosa.


Rasulullah saw bersabda : 


“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Para sahabat bertanya, "Kami malu, wahai Rasulullah." Beliau menjawab, "Bukan begitu. Malu yang sejati adalah menjaga kepala dan isinya (mata, lisan, pikiran), menjaga perut dan isinya (makanan haram), serta mengingat kematian dan kerusakan (kehancuran jasad)." (HR. Tirmidzi, dari Ibnu Abbas). 


Semoga Allah menumbuhkan dalam diri kita rasa malu yang menjadi penjaga dari segala keburukan, dan menjadi pintu menuju kemuliaan diri. Aamiiin yaa robbal 'aalamiin.

BIAR LAMBAT ASAL HANCUR

 BIAR LAMBAT ASAL HANCUR


By. Satria hadi lubis 


ADA pepatah baik yang mengatakan "Biar lambat asal selamat". Namun dalam realita, ternyata ada orang yang hidupnya lambat berubah ke arah yang lebih baik, sehingga menyesal karena sengsara di kemudian hari. Hidupnya hancur karena gagal dunia akhirat. Hidupnya "biar lambat asal hancur."


Mereka hancur pelan-pelan, tanpa suara, tanpa terasa. Sedikit demi sedikit, sampai suatu hari bangun dan bertanya: “Koq hidupku jadi begini?”


Tanda-tanda dari hidup yang perlahan menghancurkan diri sendiri adalah :


1.⁠ ⁠Waktu yang terbuang tanpa disadari


Hidup mereka bukan tidak sibuk, tapi kesibukan tanpa arah.

Jam demi jam hilang begitu saja, misalnya hobi scroll-scroll hp, rebahan, ngobrol kosong, suka menunda, dan berkata “nanti saja, besok saja, suatu saat aku pasti berubah…”


Padahal setiap detik tak akan kembali. Ia pergi membawa umur. “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian…” (QS. Al-‘Ashr ayat 1)


Kerugian itu bukan datang sekaligus. Ia menggerogoti seperti rayap—diam, tapi mematikan.


2.⁠ ⁠Kebiasaan menunda yang membunuh masa depan


Hari ini menunda shalat.

Besok menunda taubat.

Lusa menunda belajar Al-Qur’an.

Minggu depan menunda menikah.

Dan tiba-tiba tahun-tahun telah berlalu.


Hidup tidak berubah bukan karena tak mampu, tapi karena selalu menganggap masih ada waktu.

Padahal menunda kebaikan adalah cara paling halus untuk menghancurkan diri.


3.⁠ ⁠Dosa-dosa kecil yang dianggap sepele


Misalnya, ketika sholat tidak tepat waktu, ia berkata "Ah.. kecil." 

Ketika melihat gambar seronok, ia berkata, "Ah ...cuma sebentar." 

Ketika ghibah sedikit mengatakan, "Sekali ini saja." 

Ketika tidak baca al Qur'an, ia berkata. "Tidak apa-apa."


Mereka lupa bahwa lubang kecil bisa menenggelamkan kapal besar.

Begitulah maksiat kecil. Ia tidak langsung merusak, tetapi perlahan menghapus rasa malu kepada Allah dan mengeraskan hati, sehingga menganggap remeh dosa. Lalu dosanya lama-lama menjadi bukit.


Hati yang keras tidak rusak dalam sehari. Ia rusak oleh kebiasaan maksiat yang dibiarkan.


4.⁠ ⁠Tidak mau berubah, tapi ingin sukses


Ada yang ingin hidupnya tenang, tapi tak mau meninggalkan maksiat.

Ingin rezeki banyak, tapi malas ibadah.

Ingin rumah tangga harmonis, tapi lisannya kasar.

Ingin masa depan cerah, tapi enggan memperbaiki diri.


Mereka berharap hasil tanpa proses, buah tanpa menanam.

Padahal Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Qs. Ar-Ra'd ayat 11)


Yang paling menakutkan adalah ketika Allah membiarkan seseorang larut berbuat maksiat tapi hatinya tidak gelisah. Lama melakukan keburukan tapi dirinya tetap merasa aman.


Itulah tanda-tanda kerasnya hati: hancur tapi tidak terasa hancurnya.


Sampai suatu ketika musibah datang, atau umur menua, atau kematian mendekat, barulah ia melihat betapa banyak waktu yang telah terbakar sia-sia.


Maka bangkitlah wahai diri... 

Allah tidak butuh waktu lama untuk menerima taubat. Kamu saja yang terlalu lama menundanya.


Perubahan tak perlu sempurna.

Tidak harus langsung besar.

Yang penting mulai, dan berhenti mengira bahwa kamu punya banyak waktu.

Jangan menunggu pasti dan mapan baru berubah, tapi berubahlah untuk berubah.


Jangan biarkan dirimu perlahan hancur.

Hidup hanya sekali, dan tiap detik adalah tiket menuju keberhasilan.

Jika hari ini masih diberi nafas, berarti Allah masih memberimu kesempatan untuk menjadi lebih baik.


Mulailah sekarang...

Sebelum “perlahan” itu berubah menjadi “hancur”.

CARA TAUBAT DARI KORUPSI

CARA TAUBAT DARI KORUPSI


By. Satria hadi lubis 


TIDAK ada dosa yang lebih menakutkan bagi seorang muslim selain dosa yang merusak dirinya, hartanya, keluarganya, dan masyarakatnya sekaligus.

Itulah korupsi. Sebuah kejahatan mencuri dari amanah, mengambil dari yang bukan hak, dan memakan harta yang mengandung api.


Namun Islam tidak menutup pintu bagi siapa pun, termasuk pelaku korupsi untuk bertaubat. Selama nyawa belum sampai tenggorokan pintu taubat masih terbuka.


Bagaimana cara taubat dari korupsi?


1.⁠ ⁠Akui dosa itu tanpa alasan


Taubat tidak akan masuk jika hatinya masih mencari pembenaran:

“Semua orang juga begitu…”,

“Saya hanya mengikuti sistem…”,

“Kalau tidak ambil, saya rugi…”


Taubat dimulai ketika seseorang berkata pada dirinya sendiri:

“Ya Allah, aku salah. Aku mengkhianati amanah-Mu.”


2.⁠ ⁠Hentikan seketika, jangan menunda


Taubat tidak sah jika masih mengulangi. Korupsi harus berhenti hari itu juga. Tidak ada kata “sekali lagi”, “nanti kalau sudah aman untuk pensiun”, atau “setelah jabatan selesai”.


Setiap detik yang kita tunda, dosa tetap mengalir. Rugi besar jika mati sebelum taubat dari dosa korupsi.


3.⁠ ⁠Kembalikan harta yang bukan haknya


Inilah bagian yang paling berat. Namun inilah inti taubat dari korupsi. Sebab tidak sah taubat dari dosa yang menyangkut hak manusia lain jika hak tersebut belum dikembalikan.


Caranya dengan mengembalikan ke instansi/lembaga sebagai bentuk pengembalian kerugian. Atau jika malu, bisa melalui mekanisme resmi tanpa mencantumkan nama (anonim).


Jika tidak bisa dikembalikan persis, maka ganti dengan nilai yang dilebihkan (sedikit) agar tidak ada hak yang dizalimi. 

Jangan khawatir tentang harga diri.

Yang bahaya bukan malu pada manusia, tetapi malu di hadapan Allah pada hari pembalasan.


4.⁠ ⁠Bersihkan diri dengan sedekah dan amal kebajikan


Setelah mengembalikan hak, perbanyak sedekah dari harta yang halal.

Sedekah tidak akan menghapus kewajiban pengembalian, tetapi membersihkan hati dari kotoran tamak dan rakus.


5.⁠ ⁠Putuskan bergaul dengan lingkungan yang buruk


Peristiwa korupsi bukan hanya terjadi karena adanya niat yang buruk, tetapi karena lingkungan yang mendukung.


Taubat artinya berani keluar dari lingkungan yang buruk. Jika perlu pindah divisi untuk meminimalisir interaksi dengan oknum yang korup, bahkan resign jika godaannya terlalu besar. Lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan akhirat.


6.⁠ ⁠Bangun kehidupan baru dengan harta halal


Hidup dengan harta haram membuat hati gelap:

doa tidak naik, ibadah hambar, rumah tidak tenang.

Lebih baik memulai hidup baru walau mulai dari nol.


Ketika seseorang mulai bekerja dengan harta halal, Allah akan gantikan yang hilang dengan ketenangan, keberkahan, dan keluasan rezeki yang jauh lebih indah.


7.⁠ ⁠Yakin bahwa Allah memuliakan orang yang bertaubat


Dalam Islam, orang yang bertaubat sungguh-sungguh lebih mulia daripada orang yang tidak pernah salah tetapi sombong. Allah memuji mereka yang kembali, meski bergelimang dosa.


“Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Baqarah: ...)


Jadi bertaubatlah, sebelum semuanya terlambat.

Korupsi tidak hanya menghilangkan uang, tapi menghilangkan berkah, kejujuran, dan harga diri.


Taubat bukan sekadar menghentikan dosa, tapi menata hidup baru yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah.


Jika hari ini tergerak untuk berubah, itu tanda Allah sedang memanggil.

Jangan biarkan panggilan itu berlalu.


(Dalam rangka peringatan Hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember 2025)

KISAH DI SUDUT MASJID

 KISAH DI SUDUT MASJID


By. Satria hadi lubis 


ANGIN sore berembus lembut di halaman masjid kecil itu.

Seorang pemuda bernama Fahri duduk di sudut masjid, memandangi lantai yang dingin dengan hati yang kacau.


Hari itu, ia baru saja melakukan dosa yang telah ia tinggalkan sejak lama. Ia merasa hancur, malu, dan sangat jauh dari Allah. Namun entah mengapa, langkahnya justru dibawa kembali ke masjid, tempat yang selalu membuat hatinya tenang.


Fahri menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Ya Allah… kenapa aku begini? Kenapa aku terus mengecewakan-Mu?” bisiknya lirih.


Tak lama kemudian, seorang lelaki tua —Pak Hasan, muazin masjid— menghampirinya. Raut wajahnya lembut, penuh kasih.


“Fahri, kenapa murung seperti itu?”

Pemuda itu terdiam. Lalu air matanya pecah.


“Aku malu, Pak… Allah selalu menutup aibku, memberi semua yang aku minta, tapi aku masih melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak pantas dekat dengan Allah.”


Pak Hasan duduk di sampingnya.

Ia menepuk bahu Fahri pelan.


“Nak, justru rasa malu seperti itu adalah tanda hatimu masih hidup. Orang yang tidak punya rasa malu kepada Allah… dialah yang bahaya.”


Fahri mengusap matanya, mendengarkan.


Pak Hasan melanjutkan dengan suara tenang:


“Dulu, ketika saya muda, saya juga sering jatuh dalam kesalahan. Tapi ada satu momen yang mengubah hidup saya…”


Fahri menatapnya.


“Saya pernah melakukan kesalahan besar. Malam itu, saya bersembunyi di masjid ini, takut bertemu siapa pun. Saya pikir Allah pasti murka kepada saya. Tapi waktu saya sujud panjang, saya merasa sesuatu menghantam hati saya seperti petir.”


Pak Hasan tersenyum haru.


“Saya sadar… jika Allah mau mempermalukan saya, sudah sejak dulu saya hancur. Tapi Dia tutupi. Dia jaga. Dia beri saya kesempatan untuk kembali. Sadar itu membuat saya malu… tapi bukan malu yang menjauh, melainkan malu yang mendekat kepada Sang Khaliq.”


Fahri terdiam lama. Kata-kata itu masuk ke hatinya seperti air jernih.


“Fahri,” lanjut Pak Hasan, “malu kepada Allah bukan tanda bahwa kamu buruk. Itu tanda Allah masih mencintaimu. Karena hati yang mati… tak lagi merasa malu.”


Pemuda itu menunduk, suara lirih keluar dari bibirnya.


“Lalu… apa yang harus aku lakukan sekarang, Pak?”


Pak Hasan tersenyum hangat.


“Bangun lagi, Nak. Perbaiki dirimu perlahan. Ingat setiap nikmat Allah, ingat setiap aibmu yang Allah tutupi, ingat betapa Dia tetap menjaga langkahmu. Dari situlah rasa malu yang benar tumbuh. Malu yang membuatmu kembali, bukan pergi.”


Fahri menghela napas panjang. Rasanya dada yang tadi sesak mulai lapang.


Sore itu, ia bangkit, melangkah menuju tempat wudhu.

Setiap percikan air terasa seperti menyapu kotoran dari jiwanya.


Ketika ia berdiri menghadap kiblat, hatinya bergetar.


“Ya Allah… aku kembali. Aku malu, tapi aku ingin Engkau tetap memandangku. Jangan biarkan aku jauh dari-Mu lagi.”


Dan di sudut masjid kecil itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fahri merasakan ketenangan yang hanya dirasakan oleh mereka yang sedang kembali pulang kepada Allah.